Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengangkat perangkat internet satelit Starlink saat berpidato di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Kamis (24/9/2026).
Perangkat itu ia tawarkan untuk delegasi Iran. Aksi ini menyindir pemerintah Iran, yang tahun ini memutus akses internet warganya selama sekitar lima bulan.
Dalam pidato yang berlangsung sekitar 40 menit, Netanyahu menyebut pemerintah Iran takut jika rakyatnya memegang perangkat komunikasi semacam ini. Ia lalu menitipkan perangkat tersebut kepada Presiden Sidang Umum PBB untuk diteruskan ke delegasi Iran.
“Saya akan meninggalkan perangkat ini agar Anda dapat memberikannya kepada delegasi Iran. Jadi, ketika cepat atau lambat mereka membelot, mereka juga bisa bebas menceritakan kisah mereka di media sosial,” kata Netanyahu.
Netanyahu menyebut Starlink memungkinkan orang mengakses kebenaran, menentukan pilihan sendiri, serta bebas berpikir dan berpendapat. Menurut dia, itulah alasan pemerintah Iran menghabiskan miliaran dollar AS untuk menyensor internet.
Starlink adalah layanan internet satelit milik SpaceX, perusahaan antariksa besutan Elon Musk. Sinyalnya datang langsung dari satelit di orbit rendah Bumi. Karena itu, Starlink tetap bisa dipakai meski jaringan internet darat diputus pemerintah.
Yang disindir justru tak ada di ruangan
Delegasi yang hendak diberi perangkat itu justru tidak menyimak pidato Netanyahu. Delegasi Iran sudah meninggalkan ruangan sebelum ia mulai berbicara.
Iran tidak sendirian. Delegasi dari hampir 70 negara meninggalkan ruang Sidang Umum atau membiarkan kursinya kosong ketika Netanyahu naik ke podium. Ia tampil tak lama setelah Presiden Kolombia berpidato.
Indonesia termasuk di antaranya. Negara lain yang ikut meninggalkan ruangan (walk out) antara lain Palestina, Turki, Arab Saudi, Mesir, Irak, Suriah, Yaman, Qatar, Yordania, Lebanon, Malaysia, dan Kuwait. Sejumlah negara di luar Timur Tengah, seperti Spanyol, Brasil, Kuba, dan Nigeria, juga meninggalkan ruangan atau tidak hadir.
Perwakilan Amerika Serikat (AS), Jerman, Argentina, Hungaria, dan Ukraina tetap berada di ruangan. Inggris, Perancis, dan delegasi Uni Eropa juga tetap menempatkan wakilnya selama pidato berlangsung.
Netanyahu menyebut delegasi yang memboikot pidatonya sebagai “pengecut”. Ia juga meminta mereka segera meninggalkan ruangan.
Dari protes ekonomi ke serangan udara
Sindiran Netanyahu merujuk pada rangkaian pemadaman internet di Iran sepanjang 2026. Pemadaman pertama terjadi pada awal Januari. Saat itu, pemerintah Iran menindak keras gelombang protes yang pecah sejak akhir Desember 2025.
Protes itu dipicu krisis ekonomi, inflasi yang melonjak, dan nilai mata uang yang anjlok. Warga juga marah atas biaya hidup yang terus naik. Selain memutus internet, aparat melakukan penangkapan massal dan memakai kekerasan mematikan.
Pemadaman kedua dimulai setelah serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari. Pada awal Mei, pemadaman ini sudah memasuki pekan ke-10. Iran pun nyaris terputus dari jaringan internet global, sebelum akses mulai dipulihkan pada bulan yang sama.
Di tengah pemadaman itu, warga Iran memakai Starlink sebagai salah satu dari sedikit jalur yang tersisa. Lewat jalur ini, mereka mendokumentasikan pelanggaran hak asasi manusia dan mengirim kabar ke luar negeri.
Punya Starlink bisa dipidana
Pemerintah Iran menilai Starlink dan layanan satelit sejenis memakai frekuensi radio tanpa izin. Karena itu, memiliki dan memakai perangkatnya dianggap tindak pidana.
Pejabat Iran juga memperingatkan, pemilik atau penyebar perangkat Starlink bisa dijerat hukuman berat. Dasarnya adalah aturan keamanan nasional dan aturan masa perang.
Meski begitu, perangkat Starlink tetap masuk lewat jalur penyelundupan. Organisasi hak asasi manusia Witness memperkirakan setidaknya ada 50.000 terminal Starlink di Iran pada awal 2026.
Starlink juga tidak sepenuhnya kebal gangguan. Terminalnya butuh sinyal GPS untuk mengunci posisi dan waktu sebelum bisa terhubung ke satelit. Jika sinyal GPS itu diganggu, terminal bisa kesulitan tersambung, sehingga internetnya ikut tersendat.
