Counterpoint Research memperkirakan lebih dari 230 juta unit smartphone di bawah 200 dollar AS (sekitar Rp 3,6 juta) lenyap dari pasar global antara 2025 dan 2030.
Proyeksi itu tertuang dalam laporan terbaru firma riset pasar tersebut, “Smartphone Shipment Forecast by Price Band”, yang dirilis Kamis (24/9/2026). Laporan itu memetakan proyeksi pengiriman (shipment) smartphone global berdasarkan rentang harga sampai 2030.
Menurut Counterpoint, segmen HP murah tersebut bakal menyusut sekitar 40 persen dalam periode itu.
Sementara itu, Counterpoint memperkirakan pasar smartphone secara keseluruhan pulih. Pengiriman global kembali ke sekitar 1,2 miliar unit pada 2030, hanya sedikit di bawah capaian 2025.
Artinya, jumlah ponsel yang dikirim ke pasar kurang lebih sama, tetapi ponsel baru yang benar-benar terjangkau jauh lebih sedikit.
Counterpoint menilai kondisi ini adalah imbas mendalam dari penurunan pasar pada 2026-2027. Biaya memori dan chipset naik, sementara standar spesifikasi minimum terus meningkat. Vendor juga makin enggan bertahan di pasar yang tidak strategis bagi mereka.
Pukulan terberat jatuh ke ponsel kelas pemula. Sebab, di ponsel murah, biaya komponen memakan porsi yang jauh lebih besar dalam total ongkos bahan baku (bill of materials) dibanding di ponsel kelas atas. Produsen pun punya ruang yang lebih sempit untuk menyerap kenaikan harga.
Memori saja menyumbang sekitar separuh biaya komponen di ponsel murah, menurut laporan GSMA soal konektivitas internet mobile 2026.
HP mahal tumbuh, kelas menengah jalan di tempat
Pengiriman smartphone seharga 200 dollar AS ke atas justru diproyeksikan Counterpoint tumbuh sekitar 26 persen hingga 2030.
Segmen premium diperkirakan tumbuh paling cepat, sekitar 7 persen per tahun. Sementara itu, segmen menengah dan menengah atas cenderung datar.
Menurut Counterpoint, kalau konsumen HP murah sekadar pindah ke ponsel yang lebih mahal, segmen terdekat seharusnya tumbuh kuat.
Dalam proyeksi Counterpoint, sebagian konsumen memang naik kelas, sebagian menunda ganti HP, dan sebagian lagi batal membeli ponsel baru sama sekali. Pasar HP bekas ikut menyerap sebagian permintaan.
“Pasar smartphone akan pulih dari sisi jumlah unit, tetapi segmen terjangkau tidak akan kembali ke posisi sebelumnya. Peluang kini bergeser ke perangkat mainstream dengan spesifikasi lebih baik dan produk premium, meski segmen yang lebih tinggi tidak bisa menyerap seluruh volume yang hilang,” kata analis utama (principal analyst) Counterpoint Research, Yang Wang.
Menurut Wang, hilangnya smartphone baru yang terjangkau bisa membuat pengguna pertama di pasar berpenghasilan rendah makin sulit terhubung ke internet.
Apple dan Samsung diuntungkan
Counterpoint memperkirakan keuntungan dari pergeseran ini hanya dinikmati vendor dengan merek mapan dan ekosistem kuat yang terus berinvestasi di jalur distribusi.
Apple, misalnya, diperkirakan Counterpoint tetap menjadi penyumbang terbesar nilai pasar smartphone premium. Samsung juga berpeluang diuntungkan di segmen mainstream dan premium sekaligus. Modalnya adalah portofolio produk yang lebar serta kesediaan mempertahankan produk bermargin tipis demi menjaga cakupan pasar.
Sebaliknya, produsen yang bergantung pada ponsel supermurah kemungkinan perlu memikirkan ulang strateginya.
Counterpoint juga memperkirakan ponsel premium bakal mengambil porsi lebih besar dari nilai industri.
Counterpoint menyarankan sejumlah cara agar ponsel baru tetap terjangkau. Di antaranya skema cicilan perangkat, program tukar tambah dan daur ulang ponsel, subsidi yang tepat sasaran, reformasi pajak, serta upaya industri menjaga ketersediaan ponsel kelas pemula yang masih layak dijual secara komersial.
Dampaknya di Indonesia
Tren serupa sudah terasa di Indonesia. Data Counterpoint menunjukkan pengiriman smartphone di Tanah Air turun 9 persen secara tahunan pada kuartal pertama 2026 (Q1 2026).
Pada periode yang sama, ponsel di atas 600 dollar AS (sekitar Rp 10,8 juta) menyumbang 8,3 persen dari total pengiriman di Indonesia, rekor tertinggi sejauh ini.
Firma riset IDC sebelumnya juga memproyeksikan pasar smartphone Indonesia turun dua digit pada 2026, dengan ponsel di bawah 200 dollar AS sebagai segmen yang paling tertekan.
