Nokia Gak Bikin HP Lagi, tapi Tetap Dapat Puluhan Triliun Rupiah

2 mins read

Nokia sudah lama berhenti membuat ponsel sendiri, tetapi perusahaan asal Finlandia itu masih meraup puluhan triliun rupiah per tahun dari industri ponsel.

Uangnya tidak datang dari penjualan perangkat, melainkan dari lisensi merek dan paten. Unit lisensi Nokia Technologies membukukan penjualan bersih 1,93 miliar euro (sekitar Rp 40,5 triliun)) sepanjang 2024, naik 78 persen dibanding 2023 dengan perhitungan kurs yang sama.

Laba operasi unit ini pada 2024 tercatat 1,51 miliar euro (sekitar Rp 31,7 triliun), lebih dari dua kali lipat capaian setahun sebelumnya. Khusus kuartal keempat 2024 (Q4 2024), margin laba operasinya mencapai 76,9 persen.

Semuanya bermula dari keputusan Nokia melepas bisnis ponselnya ke Microsoft. Transaksi yang diumumkan pada September 2013 dan rampung pada 2014 itu bernilai total 5,44 miliar euro (sekitar Rp 114,2 triliun).

Rinciannya, Microsoft membayar 3,79 miliar euro (sekitar Rp 79,6 triliun) untuk hampir seluruh bisnis perangkat dan layanan Nokia. Sisanya, 1,65 miliar euro (sekitar Rp 34,7 triliun), untuk lisensi paten Nokia. Sekitar 32.000 karyawan Nokia ikut pindah.

Yang ditahan Nokia adalah aset tak berwujudnya: merek, portofolio paten, dan lini bisnis perangkat jaringan yang sampai sekarang masih menghasilkan uang. Beban produksi ponsel berpindah sepenuhnya ke tangan Microsoft.

Microsoft kemudian mencatat kerugian 7,6 miliar dollar AS (sekitar Rp 136,8 triliun) dari akuisisi Nokia pada Juli 2015, karena nilai bisnis yang dibeli dianggap sudah tidak sepadan. Sekitar 7.800 karyawan ikut dipangkas, sebagian besar dari divisi ponsel.

Merek dipinjamkan, royalti mengalir

Pada 2016, setahun setelah Microsoft angkat tangan, Nokia meneken kesepakatan berdurasi 10 tahun dengan HMD Global. Lewat perjanjian itu, HMD Global yang dibangun sejumlah bekas petinggi Nokia bisa memproduksi ponsel dan tablet berlogo Nokia untuk pasar global.

Skemanya sederhana. Yang dipinjamkan Nokia hanya merek dan kekayaan intelektual (intellectual property/IP). Urusan pabrik, promosi, sampai risiko barang menumpuk di gudang jadi tanggungan HMD. Sejak Desember 2016, Nokia menerima royalti dari tiap unit yang laku dengan merek tersebut.

Mesin uang Nokia ada di portofolio paten

Sumber uang terbesar Nokia dari industri ponsel adalah lisensi paten. Per Februari 2024, Nokia memegang sekitar 20.000 kelompok paten (patent family), termasuk lebih dari 6.000 paten yang wajib dipakai perangkat 5G. Portofolio itu dibangun dari investasi riset dan pengembangan (R&D) sekitar 150 miliar euro (sekitar Rp 3.150 triliun) sejak 2000.

Paten-paten inilah yang membuat produsen ponsel membayar royalti kepada Nokia untuk perangkat yang memakai teknologi jaringan seluler, dari 2G hingga 5G.

Siklus perpanjangan lisensi paten smartphone itu dimulai sejak 2021. Nokia menuntaskannya pada Februari 2024. Daftar pemegang lisensinya mencakup Huawei (Desember 2022), Apple dan Samsung (2023), serta Honor, Oppo, dan Vivo.

Lonjakan penjualan pada 2024 dipicu kesepakatan lisensi baru dengan Oppo dan Vivo, ditambah pembayaran susulan (catch-up payment) dari perselisihan sebelumnya. Transsion, produsen ponsel yang sebelumnya belum berlisensi, ikut meneken perjanjian dengan Nokia pada Q4 2024.

Nokia kini ikut menjual lisensinya ke industri mobil. Hingga November 2025, empat produsen mobil China memegang lisensi teknologi seluler Nokia. Mercedes masuk dalam tujuh produsen mobil besar yang mengantongi lisensi Wi-Fi Nokia.

Setelah pembayaran susulan mereda, penjualan unit lisensi Nokia pada Q4 2025 turun 17 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi 384 juta euro (sekitar Rp 8,1 triliun). Pendapatan tahunan berjalan (run-rate) dari kontrak lisensi yang sudah diteken tetap di kisaran 1,4 miliar euro (sekitar Rp 29,4 triliun).

Bisnis lisensi ini kini bernama Technology Standards dan berada di bawah divisi Mobile Infrastructure. Pada Q2 2026, penjualannya naik 15 persen dengan perhitungan kurs yang sama menjadi 407 juta euro (sekitar Rp 8,5 triliun).

Lisensi habis, merek Nokia menunggu pemilik baru

Berbeda dengan bisnis patennya, merek ponsel Nokia justru kehilangan pijakan sejak HMD berbenah.

Sepanjang 2024, HMD mulai memasarkan ponsel dan aksesori dengan nama mereknya sendiri. Pada September 2024, seluruh smartphone berlogo Nokia ditarik HMD dari gerai-gerai di Eropa.

Kesepakatan 10 tahun antara Nokia dan HMD semula dijadwalkan berakhir pada 2026. Pada Juli 2025, seorang manajer komunitas Nokia menulis di forum resmi merek itu bahwa Nokia terbuka menggandeng produsen ponsel berskala besar agar ponsel berlabel Nokia tetap ada di pasar.

Lisensi Nokia untuk HMD di kategori ponsel fitur (feature phone), yakni HP berfungsi dasar yang bukan smartphone, dikabarkan diperpanjang tiga tahun melewati 2026, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Nokiamob. Namun, baik Nokia maupun HMD belum mengumumkannya secara resmi.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.