Baterai HP berkapasitas 10.000 mAh ternyata tidak selalu bisa dipakai sampai 10.000 mAh.
Temuan itu muncul dari uji daya tahan baterai besar-besaran yang dilakukan kanal teknologi asal China, Geekerwan. Tim kanal tersebut membeli 78 unit HP ritel dari toko, lalu menguji semuanya dengan metode baru yang melibatkan lengan robot dan kecerdasan buatan (AI).
Hasilnya dirangkum dalam video berdurasi hampir 38 menit berjudul kurang lebih “Uji Besar Daya Tahan HP Geekerwan: Kapasitas Baterai Dikunci? Daya Menyusut? Siapa yang Curang?”. Video ini diunggah ke platform Bilibili pada 26 Juli 2026 dan juga tayang di kanal YouTube Geekerwan.
Selain menguji daya tahan, Geekerwan juga membongkar 28 model HP dan mengukur langsung berapa kapasitas baterai yang sebenarnya dibuka pabrikan untuk pengguna. Hasilnya, sejumlah HP dengan baterai jumbo ternyata hanya memberi akses sekitar 87 sampai 90 persen dari kapasitas yang tertera di label baterainya.
Praktik ini disebut Geekerwan sebagai “penguncian kapasitas”. Pabrikan tetap mengiklankan angka baterai penuh, tetapi sistem di dalam HP membatasi porsi yang bisa dipakai sejak unit keluar dari pabrik.
Artinya, porsi yang dikunci itu tidak akan pernah bisa dinikmati pengguna, bahkan saat HP masih baru. Ini berbeda dari penurunan kapasitas akibat baterai yang menua.
Klaim pengisian cepat juga tak luput dari sorotan. HP yang diiklankan mendukung pengisian 120 watt, misalnya, tidak pernah benar-benar menyentuh angka 120 watt dalam pengujian mereka.
“Jadilah penggemar produk, bukan penggemar pabrikan. Produk elektronik bicara lewat kemampuannya,” kata Yunfei, pembawa acara Geekerwan, di akhir video.
Baterai silikon-karbon, sumber kapasitas jumbo
Untuk memahami mengapa kapasitas baterai dikunci, perlu dilihat dulu teknologi yang membuat baterai HP bisa sebesar sekarang.
Batas anoda grafit
Selama bertahun-tahun, baterai lithium-ion di HP memakai grafit sebagai kutub negatif (anoda). Saat baterai diisi, ion lithium bergerak dari kutub positif lalu menyusup ke celah-celah di antara lapisan grafit.
Dalam kondisi terisi penuh, kira-kira setiap enam atom karbon hanya bisa menampung satu atom lithium. Karena itu, kapasitas teoretis anoda grafit hanya sekitar 300-an mAh per gram.
Silikon menampung lebih banyak lithium
Dalam dua tahun terakhir, HP di China ramai memakai teknologi baru, yakni baterai dengan anoda silikon-karbon. Silikon bisa membentuk paduan (alloy) dengan lithium saat pengisian, sehingga satu atom silikon mampu menampung sekitar 3,75 atom lithium.
Dengan silikon sebagai bahan anoda, kapasitas teoretisnya bisa mencapai 3.579 mAh per gram. Angka itu hampir sepuluh kali lipat anoda grafit.
Masalah pembengkakan silikon
Masalahnya, silikon membengkak cukup besar saat terisi, lalu menyusut lagi saat daya dikuras. Kalau anoda dibuat dari silikon murni, siklus mengembang dan menyusut yang terus berulang membuat butiran silikon gampang retak dan umur baterai jadi pendek.
Para ilmuwan kemudian memadukan bahan silikon dengan bahan karbon seperti grafit. Silikon bertugas menampung lebih banyak lithium, sedangkan karbon menjadi penghantar listrik sekaligus penyangga yang memberi ruang bagi silikon untuk mengembang.
Hasilnya, kepadatan energi baterai naik tajam dan daya tahan HP di tiap generasi ikut melonjak. Dua tahun lalu kapasitas baterai HP masih berkisar 6.000 mAh, paling besar sekitar 7.000 mAh. Tahun lalu, kapasitas 8.000 mAh jadi hal biasa, bahkan ada yang menembus 10.000 mAh.
Uji daya tahan pakai lengan robot dan AI
Untuk mengukur daya tahan baterai, Geekerwan memakai metode pengujian yang mereka sebut “Geekerwan 5G Battery Life 5.0”.
Dari versi 3.0 ke 3.5
Metode ini merupakan pengembangan dari versi 3.0 yang sudah dipakai tahun lalu. Pada versi 3.0, Geekerwan merakit sendiri lengan robot berstruktur XYZ yang dilengkapi kamera industri beresolusi 6K, lalu memasangnya di dalam kotak khusus yang kedap sinyal.
Di dalam kotak itu, tim juga membangun jaringan inti 5G SA sendiri yang mereka juluki “Geekerwan Telecom”. Mereka pun menulis sendiri perangkat lunak pengendali dan algoritma lengan robotnya.
Pengujian berjalan dalam putaran satu jam. Tiap putaran mencakup aplikasi pesan instan, platform belanja, aplikasi berita, streaming video, dan game, sementara musik serta panggilan suara dan video berjalan di latar belakang.
Versi 3.5 menambahkan navigasi dengan Amap (Gaode), aplikasi peta populer di China. Urutan aplikasi diacak tiap satu jam, dan pengujian terus berjalan sampai baterai HP habis.
Kelemahan versi 3.0
Menurut Geekerwan, kelemahan versi 3.0 ada pada aplikasi yang terlalu cepat berubah. Aplikasi seperti Taobao, Weibo, Bilibili, Xiaohongshu, Douyin, dan Pinduoduo sering memunculkan jendela pop-up dan memperbarui tata letak halaman utama.
Akibatnya, koordinat layar yang sudah ditandai untuk lengan robot bisa tidak berlaku lagi keesokan harinya, padahal tim tidak mungkin menandai ulang koordinat lebih dari 70 HP setiap hari.
Agen AI di versi 5.0
Karena itu, versi 5.0 dibangun dengan pendekatan agen AI (AI agent). Gambar dari kamera industri langsung dikirim ke model AI yang bisa “melihat” (model bahasa visual), lalu model itu sendiri yang menganalisis isi layar, letak tombol, dan langkah berikutnya.
Server AI lokal
Agar tidak terganggu fluktuasi jaringan, Geekerwan memilih menjalankan model AI secara lokal, bukan lewat layanan cloud. Mereka merakit server khusus senilai lebih dari 100.000 yuan (sekitar Rp 250 juta, kurs Rp 2.500) yang berisi kartu komputasi Nvidia H20 dan kartu grafis RTX 6000 Ada Generation.
Dua model Qwen
Server itu menjalankan dua model AI buatan Alibaba. Model Qwen 3.6 35B-A3B berarsitektur mixture of experts (MoE) dipakai untuk tugas cepat seperti menggulir linimasa Weibo, Taobao, dan Xiaohongshu.
Model kedua, Qwen 3.6 27B, lebih besar dan lebih akurat. Model ini mengurus tugas yang butuh ketelitian, misalnya mencari tombol tertentu atau menutup jendela pop-up.
Kedua model juga saling membantu. Jika model pertama salah membaca layar atau berhalusinasi, model itu akan memanggil model 27B untuk memeriksa. Geekerwan menyebut seluruh proses dari menerima gambar layar sampai menghitung jalur gerak lengan robot memakan waktu kurang dari dua detik.
Target sama, jalurnya bebas
Dengan otak AI ini, pola pemakaian HP jadi lebih acak. Pada versi 3.0, urutan aplikasi memang diacak, tetapi gerakan di dalam tiap aplikasi sudah dipatok.
Pada versi 5.0, robot hanya diberi target. Saat membuka Taobao, misalnya, AI diberi waktu lima menit dan wajib membuka setidaknya empat halaman detail produk.
Produk mana yang dilihat, kapan diklik, dan berapa lama halaman dibaca sepenuhnya diputuskan AI. Jalur penjelajahannya pun berbeda di setiap putaran.
Untuk menjaga keadilan antar-HP, beban kerja total tetap sama, yakni lima menit dan empat halaman produk. Geekerwan juga membatasi jatah token berpikir model AI supaya tidak berpikir terlalu lama.
Kecepatan gerak lengan robot turut dinaikkan. Frekuensi geseran layar kini ditentukan acak dalam rentang tertentu, tetapi rata-ratanya jauh lebih cepat dibanding versi sebelumnya.
Simulasi game dan pesan masuk
Untuk game Genshin Impact, lengan robot tunggal tidak bisa benar-benar bermain. Sebagai gantinya, Geekerwan membuat tahap khusus berbeban tinggi yang berisi berbagai monster yang bertarung sendiri, sehingga beban bermain game tetap tersimulasi.
Satu HP lain juga ditempatkan di luar kotak uji untuk mengirim pesan WeChat ke HP yang sedang diuji setiap beberapa menit. Dengan semua penyesuaian itu, hasil uji versi 5.0 lebih mendekati pemakaian HP intensitas sedang di jaringan 5G sehari-hari.
Lebih berat dari metode lama
Perbedaan metode itu terlihat pada iPhone 16 Pro Max, yang bertahan 10,5 jam saat diuji dengan metode 2.0. Di metode 3.5, angkanya turun jadi kurang dari 8 jam, lalu di metode 5.0 tinggal sedikit di atas 7 jam.
Pola serupa terjadi pada Xiaomi 15, dari 11 jam di metode 2.0, sekitar 8 jam di metode 3.5, menjadi sekitar 7 jam di metode 5.0. Semua HP yang diuji merupakan unit baru, sehingga baterainya belum mengalami penurunan kapasitas.
Unit media vs unit toko
Geekerwan menekankan bahwa semua HP dalam pengujian ini dibeli sendiri dari pasar ritel, bukan unit pinjaman dari pabrikan untuk media.
Video pertama yang hilang
Isu ini sudah mereka angkat lewat video pertama rangkaian uji perbandingan HP 2026, yang membahas performa game dan berjudul kurang lebih “Uji Besar Performa Game HP: Kecurangan Pabrikan Makin Menjadi-jadi!”. Video yang dirilis pada Februari 2026 itu belakangan hilang dari semua platform tanpa pemberitahuan resmi.
Dalam siaran langsung setelahnya, Yunfei membantah ada persekongkolan pabrikan di balik hilangnya video tersebut. Ia menyebut ada seorang petinggi dari pabrikan yang tidak disebut namanya menghubungi pimpinan tim secara pribadi, bukan atas nama perusahaan.
“Sebenarnya alasannya tidak serumit yang kalian bayangkan. Tidak ada konspirasi pabrikan untuk menjatuhkan kami. Orang di dalam pabrikan itu banyak dan posisinya berbeda-beda, ada yang mendukung, ada yang menentang,” kata Yunfei.
Selisih unit media dan unit ritel
Alasannya, unit review yang dikirim pabrikan kerap berbeda dari unit yang dijual di toko. Berdasarkan data metode 3.5 tahun lalu, hanya dua merek yang unit medianya punya daya tahan setara unit ritel, yakni Apple dan Huawei.
Unit media dari merek lain punya selisih dengan unit toko. Pada kasus yang lebih ringan, unit media dari beberapa merek bertahan beberapa puluh menit sampai satu jam lebih lama.
Geekerwan menduga selisih ini berasal dari chip pilihan (golden sample) yang disediakan Qualcomm atau MediaTek. Chip semacam ini punya kualitas lebih baik dibanding chip di unit ritel pada umumnya.
Pada kasus yang lebih parah, pabrikan disebut menanamkan pengaturan khusus di unit media. Saat mendeteksi uji game, performa digenjot maksimal, sedangkan saat mendeteksi uji baterai, kinerja HP justru dibatasi ketat. Sebagian unit media dengan pengaturan seperti ini bisa bertahan lebih dari tiga jam lebih lama dibanding unit ritelnya.

dengan metode baru yang melibatkan lengan robot dan kecerdasan buatan (AI)
Langkah antisipasi Geekerwan
Geekerwan juga mengaku pernah mendapati teknisi pabrikan yang mencoba mencatat frekuensi gerakan lengan robot saat mengantar unit uji. Tim menilai upaya itu bertujuan mempelajari cara mendeteksi pengujian, lalu langsung menghentikannya.
Sejak dua tahun lalu, Geekerwan tidak lagi mengizinkan teknisi pabrikan berjaga di lokasi pengujian. HP yang diuji dikunci dan dibatasi aksesnya, sedangkan metode 3.0 dan 5.0 dilengkapi banyak algoritma acak serta “jebakan”. Detail teknis metode barunya juga dirahasiakan.
Pedoman regulator China
Isu ini kini menjadi perhatian regulator di China. Administrasi Siber China (CAC) dan Badan Regulasi Pasar Negara (SAMR) menerbitkan pedoman bersama untuk kegiatan ulasan produk di internet pada 8 Juni 2026.
Pasal ketiga pedoman itu mewajibkan sampel ulasan berupa barang biasa yang bisa dibeli konsumen di pasar dan asal-usulnya bisa dilacak. Sampel tidak boleh berupa barang khusus yang disiapkan untuk keperluan ulasan.
Pasal yang sama mewajibkan pengulas memberi tanda yang jelas bila ulasannya dipesan atau disponsori pihak ketiga, atau bila punya hubungan kepentingan dengan pihak yang terkait sampel. Pasal 4 pedoman itu juga mewajibkan pengulas menyimpan sampel uji dan mencatat prosesnya supaya datanya bisa ditelusuri.
Juara daya tahan menembus 12 jam
Dari 78 HP ritel yang diuji, Honor WIN RT dengan baterai 10.000 mAh jadi satu-satunya HP yang bertahan lebih dari 12 jam, tepatnya 12 jam 6 menit. Di posisi kedua, Honor WIN yang juga berbaterai 10.000 mAh bertahan 11 jam 53 menit.
Tiga HP Redmi, yakni Redmi K90, Redmi Turbo 5 Max, dan Redmi K90 Max, ikut masuk lima besar. Sejumlah HP berbaterai kelas 8.000-9.000 mAh lain bertahan sekitar 10,5 sampai 11 jam, di antaranya Xiaomi 17 Max, Red Magic 11 Pro, iQOO Z10 Turbo+, iQOO Z11 Turbo, dan OnePlus Ace 6T.
Di kelompok 9 sampai 10 jam lebih, ada deretan HP baru OnePlus, Redmi K90 Pro Max, dan seri Honor Magic8. Umumnya, HP di kelompok ini memakai baterai yang cukup besar.
Huawei
Hasil yang paling tak terduga bagi Geekerwan datang dari tiga HP seri Huawei Pura 90. Dengan baterai 6.000 mAh lebih dan efisiensi chip yang tertinggal, ketiganya tetap bertahan lebih dari 9 jam. Geekerwan menilai hasil ini berkat optimasi sistem operasi HarmonyOS.
Seri Huawei Mate 80 tidak semenonjol itu. HP ini bertahan 8 jam lebih, tidak berbeda jauh dari Mate 70 Pro+, tetapi unggul lebih dari 2 jam dibanding Mate 60 Pro.
Apple
Apple juga mengandalkan optimasi sistem. Baterai iPhone 17 Pro Max versi China bahkan di bawah 5.000 mAh, tetapi HP ini bertahan hampir 9 jam.
iPhone 17 Pro bertahan 7 jam 19 menit, lebih lama dari iPhone 16 Pro Max generasi sebelumnya. Sementara iPhone 17 bertahan 6 jam 25 menit, termasuk paling bawah di antara HP yang diuji, meski masih lebih baik dibanding iPhone generasi terdahulu.
Menurut Geekerwan, iOS 26 sempat punya optimasi yang buruk saat pertama dirilis. Namun setelah beberapa kali pembaruan, iOS 26.5 sudah membereskan banyak masalah konsumsi daya dan panas.
Flagship Xiaomi, Oppo, dan Vivo
Flagship utama Xiaomi, Oppo, dan Vivo umumnya hanya sanggup mencapai sekitar 8 jam. Menurut Geekerwan, flagship ini diposisikan serba seimbang sehingga tidak menumpuk baterai jumbo, atau ruangnya dialokasikan untuk modul kamera. Ketiga HP seri Vivo X300, misalnya, tidak ada yang berbaterai 7.000 mAh.
Perangkat lunak flagship yang dirilis paling awal ini juga dirampungkan lebih cepat, sehingga pabrikan kemungkinan tidak mencurahkan banyak sumber daya untuk mengoptimalkan konsumsi dayanya.
Xiaomi 17 Pro dan Xiaomi 17 bahkan tidak sampai 8 jam. Geekerwan menilai optimasi kedua HP itu biasa saja.
Baca juga: [judul artikel terkait]
Batas 20 Wh dan HP “tipis” yang cepat habis
HP dari merek global punya kesamaan. Merek-merek ini menahan kapasitas baterai di bawah 20 watt-jam (Wh), atau sekitar 5.000 mAh, agar baterai tidak digolongkan barang berbahaya di sejumlah wilayah.
Penggolongan itu bisa menambah biaya pengiriman. Untuk HP yang terjual dalam jumlah besar di seluruh dunia, tambahan biaya per unit akan menumpuk jadi angka yang besar.
Sebaliknya, HP China yang dijual ke Eropa biasanya dibuat versi khusus dengan dua sel baterai, atau penjualannya tidak terlalu besar sehingga tambahan biayanya tidak signifikan.
Samsung
Samsung, misalnya, sudah beberapa generasi memakai baterai 5.000 mAh di flagship seri Galaxy S. Galaxy S26 Ultra bertahan 7 jam 15 menit dalam uji Geekerwan, sedikit lebih lama dari Galaxy S25 Ultra dan kurang lebih setara iPhone 17 Pro.
Samsung sendiri baru mulai memakai baterai silikon-karbon di HP lipat Galaxy Z Fold 8, Galaxy Z Fold 8 Ultra, dan Galaxy Z Flip 8 yang diumumkan di London, 22 Juli 2026, dan kini juga dipasarkan di Indonesia. Kapasitas baterainya masing-masing 4.800 mAh, 5.000 mAh, dan 4.300 mAh, masih dalam batas 5.000 mAh.
HP tipis dan Pixel 10 Pro XL
HP tipis bernasib lebih buruk. Bobot Galaxy S25 Edge dan iPhone 17 Air hanya 160 gram lebih, tetapi daya tahan keduanya sama-sama kurang dari 6 jam.
Google Pixel 10 Pro XL mencatat hasil yang lebih buruk lagi. HP berbobot 232 gram yang dijual 1.200 dollar AS (sekitar Rp 21,6 juta) ini hanya bertahan 5 jam 51 menit.
Angka itu kalah dari iPhone 15 Pro Max yang sudah berusia tiga tahun, juga kalah dari Galaxy S25 yang mengutamakan bodi tipis dan ringan.
Secara keseluruhan, daya tahan HP dalam uji ini berkisar 5 sampai 12 jam. Geekerwan mengunggah seluruh hasil peringkat ke situs mereka, lengkap dengan rekaman video pengujian setiap HP dari awal sampai akhir.
Kapasitas yang dikunci
Meski secara umum masuk akal, sejumlah hasil dinilai janggal. iQOO 15T yang berbaterai 8.000 mAh, misalnya, bertahan kurang dari 10 jam dan kalah dari iQOO 15 yang baterainya lebih kecil.
Flagship Xiaomi juga punya baterai jauh lebih besar dari Samsung, tetapi selisih daya tahannya tidak seberapa. Honor yang memuncaki peringkat dengan baterai 10.000 mAh pun tidak unggul jauh dari HP berbaterai 8.000 mAh.
Geekerwan menyebut penyebabnya adalah penguncian kapasitas. Pabrikan hanya membuka sebagian kapasitas baterai, misalnya 7.000 mAh dari baterai 8.000 mAh, tetapi tetap mengiklankan HP-nya dengan baterai 8.000 mAh.
Lapisan SEI dan umur baterai
Alasan utamanya adalah umur baterai. Proses pengisian dan pengosongan baterai lithium tidak sepenuhnya bisa dibalik. Di setiap siklus, sedikit lithium bereaksi dengan cairan elektrolit dan membentuk lapisan pelindung di permukaan anoda yang disebut SEI.
Lapisan ini sebenarnya melindungi elektroda. Namun ketika elektroda berulang kali mengembang dan menyusut, lapisan itu retak lalu terbentuk kembali. Proses ini terus menghabiskan lithium dan elektrolit, sehingga lama-kelamaan lithium yang bisa dipakai makin sedikit, hambatan dalam baterai membesar, dan kapasitasnya turun.
Baterai juga lebih cepat rusak kalau terlalu sering diisi sampai benar-benar penuh atau dikuras sampai benar-benar kosong. Karena itu, pabrikan memasang batas atas tegangan saat penuh dan batas bawah tegangan saat HP mati, sehingga ada ruang cadangan di kedua ujungnya.
Lebih berat di baterai silikon-karbon
Pada baterai silikon-karbon, masalah ini berlipat ganda. Butiran silikon yang membengkak jauh lebih besar membuat lapisan SEI lebih mudah robek, sehingga lithium dan elektrolit makin cepat terkuras.
Semakin besar kepadatan energi yang dikejar, semakin banyak silikon yang dicampurkan ke anoda dalam volume yang sama. Pembengkakannya pun makin besar, sehingga baterai silikon-karbon berkapasitas besar cenderung makin perlu dikunci.
Baterai dibongkar, diuji dua hari
Geekerwan menilai angka kapasitas yang dibaca perangkat lunak di HP kemungkinan tidak akurat. Karena itu, mereka mengeluarkan baterai dari HP dan mengukur kapasitasnya secara langsung di tingkat sel.
Standar pengujian
Pengujian mengikuti standar nasional China untuk baterai lithium, yakni pengosongan dengan arus 0,2C memakai alat simulasi baterai khusus. Pada baterai 5.000 mAh, arus 0,2C setara 1 ampere, sehingga baterai secara teori habis dalam sekitar 5 jam.
Arus yang rendah ini dipilih untuk meminimalkan penurunan tegangan dan panas yang muncul bila baterai dikuras dengan arus besar.
Tahapan pengujian
Mengukur tegangan batas
Sebelum pengosongan, tim mengukur dua titik acuan, yakni tegangan saat baterai penuh dan tegangan saat HP mati. Kedua batas ini biasanya sudah diatur pabrikan di sistem HP.
Untuk itu, kemasan baterai harus dibuka agar titik ukur di terminal sel (tab) terlihat. Geekerwan menegaskan langkah ini sangat berbahaya dan tidak boleh ditiru.
Tegangan penuh diukur dengan mencabut baterai setelah HP terisi 100 persen. Tegangan saat mati lebih sulit diukur, karena tegangan baterai langsung naik lagi begitu HP mati dan bebannya hilang.
Karena itu, di tahap akhir pengosongan, HP dibiarkan tetap menyala dengan daya kecil. Tegangan di terminal sel dipantau langsung, sehingga tegangan saat HP benar-benar mati masih dalam kondisi berbeban.
Mengosongkan baterai di alat uji
Setelah kedua titik didapat, HP diisi penuh lagi. Baterai lalu disambungkan ke alat uji dengan sambungan empat kabel dan dikosongkan dengan arus tetap 0,2C pada suhu yang ditentukan, sampai tegangannya turun ke titik tegangan saat HP mati.
Pengujian ini tidak melewati papan sirkuit utama HP, sehingga kehilangan daya dari rangkaian elektronik tidak ikut terhitung. Hasil pengukuran lalu dibandingkan dengan kapasitas nominal (rated) yang tertera di label baterai.
Kapasitas nominal ini biasanya sedikit lebih kecil dibanding kapasitas tipikal (typical) yang dipakai dalam materi promosi. Karena itu, persentase dalam uji Geekerwan tidak selalu sama dengan hasil membagi kapasitas terukur dengan angka mAh di iklan.
Satu HP butuh waktu hampir dua hari untuk diuji. Karena itu, Geekerwan hanya menguji 28 model dari lebih dari 70 HP yang masuk peringkat.
Honor paling banyak mengunci
Apple dan Samsung
Menurut Geekerwan, merek global yang masih memakai baterai grafit berkapasitas kecil memang tidak perlu mengunci kapasitas. Dari tiga merek global, Apple disebut mengunci sedikit, meski selisihnya tipis. iPhone 17 Pro Max mencapai 97,83 persen kapasitas nominalnya, tidak jauh dari Galaxy S26 Ultra yang mencapai 98,34 persen.
Penyebabnya, iPhone menyisakan sedikit daya setelah mati kehabisan baterai. Daya cadangan ini dipakai agar fitur Find My iPhone dan kartu transportasi NFC masih bisa berfungsi untuk sementara.
Huawei
Huawei, baik HP baru maupun lama, hanya mengunci sedikit sehingga kapasitasnya nyaris penuh. Huawei Mate 80 Pro mencapai 98,79 persen, sedangkan Mate 70 Pro+ mencapai 96,98 persen. Seperti Apple, Huawei mengandalkan optimasi perangkat lunak untuk mengejar daya tahan baterai.
Oppo, OnePlus, dan Realme
Temuan yang tak terduga justru datang dari grup Oppo dan OnePlus. Geekerwan semula menduga grup ini jadi pelaku penguncian paling berat, tetapi sejauh ini HP generasi terbaru Oppo, OnePlus, dan Realme sama sekali tidak dikunci. Oppo Find X9 bahkan mencatat 100,48 persen dari kapasitas nominalnya.
Generasi sebelumnya lain cerita. OnePlus 13 lama dikritik warganet soal kapasitas baterai, dan dalam uji ini kapasitas yang bisa dipakai memang kurang dari 90 persen. Kapasitas nyata OnePlus 15 jauh lebih besar.
Vivo dan iQOO
Vivo tampil biasa saja. Seri Vivo X300 dan iQOO 15T hanya membuka sekitar 94 persen kapasitas baterainya.
iQOO 15 bahkan hanya membuka 90 persen, lebih ketat dari generasi sebelumnya. Dari baterai yang diiklankan 7.000 mAh, kapasitas yang benar-benar bisa dipakai hanya 6.155 mAh.
Red Magic dan Nubia
Red Magic dan Nubia juga mengunci cukup banyak. HP Red Magic yang diuji mencapai sekitar 92,56 persen, sedangkan Nubia Z80 Ultra bahkan membuka kurang dari 90 persen kapasitasnya.
Xiaomi dan Redmi
Seri angka Xiaomi sudah lama dikenal sering mengunci kapasitas. Xiaomi 15 hanya mencapai 91 persen kapasitas nominal, sedangkan Xiaomi 17 turun lagi jadi 89 persen. Xiaomi 17 Pro Max bernasib serupa dengan 89,78 persen. Redmi sedikit lebih baik, dengan kisaran 94 sampai 95 persen.
Honor
Honor tercatat sebagai merek dengan penguncian paling besar. Honor WIN hanya mencapai 87,84 persen, dan HP Honor generasi sebelumnya yang diuji juga hanya sedikit di atas 87 persen.
Artinya, dari baterai 10.000 mAh di Honor WIN, hanya sekitar 8.500 mAh yang bisa dipakai. Inilah yang menjelaskan mengapa HP tersebut tidak unggul jauh dari HP berbaterai 8.000 mAh, dirangkum dari kanal YouTube Geekerwan.
Geekerwan mengaku tidak kaget. Honor dinilai paling agresif mengejar baterai berkepadatan tinggi, dan baterai yang terkesan baru keluar dari laboratorium kemungkinan besar butuh ruang cadangan yang besar.
Huawei: bukan sengaja dikunci
Video Geekerwan langsung ramai dibicarakan di China. Dalam dua hari, video itu menempati posisi teratas daftar video populer Bilibili dan sudah ditonton lebih dari 2,8 juta kali per 28 Juli 2026.
Salah satu petinggi pabrikan yang ikut menanggapi adalah Chief Technology Officer (CTO) Huawei Consumer Business Group, Li Xiaolong. Pada Minggu (26/7/2026) malam, ia membagikan ulang video penjelasan soal baterai yang pernah ia unggah pada Februari 2026.
Batas tegangan mati 2,8 volt
Menurut Li, baterai berkadar silikon tinggi melepas lebih banyak daya di tegangan rendah dibanding baterai grafit. Masalahnya, banyak HP masih memakai batas tegangan mati di atas 3 volt yang dirancang untuk baterai grafit, sehingga sebagian daya tidak pernah terpakai.
“Sebagian HP sebenarnya bukan sengaja mengunci kapasitas agar tidak bisa dipakai konsumen, melainkan karena sejak dirancang, HP-HP itu tidak memperhitungkan kerja di tegangan rendah,” kata Li.
Li menyebut Huawei sudah memperkirakan baterai berkadar silikon tinggi akan jadi arus utama sejak lebih dari dua tahun lalu. Karena itu, Huawei menyiapkan banyak komponen yang bisa bekerja di tegangan rendah dan menurunkan batas tegangan mati HP-nya menjadi 2,8 volt.
“Berapa pun kapasitas yang tertera, sebesar itu pula yang bisa dipakai pengguna,” ujar Li, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Eastmoney.
Soal hak konsumen untuk tahu
Geekerwan menegaskan temuan ini bukan ajakan agar pabrikan berhenti mengembangkan baterai. Mereka justru berharap semua pabrikan mengadopsi anoda silikon-karbon dan kepadatan energi yang lebih tinggi.
Mereka menilai baterai silikon-karbon yang sudah dikunci pun tetap jauh lebih besar dibanding baterai grafit yang dipakai merek global.
Yang dipersoalkan adalah keterbukaan. Pabrikan dinilai enggan memberi tahu efek samping penguncian dan tidak mau membuka angka kapasitas nyata yang bisa dipakai.
“Konsumen membeli HP Anda karena di acara peluncuran Anda mengiklankan 7.000, 8.000, 9.000, bahkan 10.000 mAh. Maka Anda wajib memberi tahu konsumen dengan jelas, apakah kapasitas sebesar itu benar-benar mereka dapatkan,” kata Yunfei.
Geekerwan juga mendorong industri memperbaiki standar yang ada, misalnya dengan mewajibkan pabrikan mencantumkan kapasitas baterai yang benar-benar bisa dipakai.
Versi Indonesia gimana?
Pengujian Geekerwan sendiri memakai HP versi China. Hasilnya belum tentu sama dengan HP yang dijual di Indonesia, sehingga tidak bisa dijadikan acuan utama untuk menilai unit yang beredar di sini.
Dari sisi spesifikasi, sejumlah HP China dijual dengan baterai yang lebih kecil di pasar global. Xiaomi 17 versi China, misalnya, memakai baterai 7.000 mAh. Di laman resmi Xiaomi Indonesia, Xiaomi 17 tercantum memakai baterai silikon-karbon 6.330 mAh (tipikal) dengan kandungan silikon 16 persen, atau sekitar 10 persen lebih kecil.
Pola serupa terjadi pada Xiaomi 17 Ultra, dari 6.800 mAh di versi China menjadi 6.000 mAh di versi global. Redmi K90 dan Redmi K90 Pro Max yang ikut diuji Geekerwan juga dijual secara global dengan nama Poco F8 Pro dan Poco F8 Ultra. Baterai keduanya masing-masing 6.210 mAh dan 6.500 mAh, lebih kecil dari versi China yang berkapasitas 7.100 mAh dan lebih dari 7.500 mAh.
Xiaomi belum memberi alasan resmi soal pemangkasan kapasitas tersebut. Penjelasan yang sering dikaitkan adalah aturan pengiriman baterai lithium-ion, terutama di Eropa, yang membatasi jumlah energi dalam satu sel baterai.
Tidak semua HP berbeda. iQOO 15 versi Indonesia tercantum memakai baterai sel tunggal dengan kapasitas standar 7.000 mAh, sama dengan versi China. Laman resmi iQOO Indonesia juga mencantumkan kapasitas terukurnya, yakni 6.830 mAh.
Kondisi pemakaiannya pun tidak sama. Geekerwan menguji HP di jaringan inti 5G SA buatan sendiri dengan aplikasi yang populer di China, seperti Taobao, Weibo, dan Amap. Pengguna di Indonesia umumnya memakai jaringan operator seluler dan aplikasi yang berbeda.
Pengisian 120 watt yang cuma sebentar
Masalah serupa ditemukan pada klaim pengisian cepat. OnePlus 15 yang diiklankan mendukung pengisian 120 watt bahkan tidak menyentuh 120 watt di detik-detik awal.
Dalam uji Geekerwan, daya puncaknya hanya 97 watt dan cuma bertahan beberapa detik. Setelah itu daya turun ke 79 watt, lalu 63 watt setelah dua menit, dan 49 watt setelah tiga menit berikutnya.
Padahal, OnePlus 15 termasuk HP dengan performa pengisian terbaik. Sebagian besar HP lain tampil lebih buruk.
Rata-rata daya dari 0 sampai 50 persen
Karena itu, Geekerwan mengukur rata-rata daya pengisian saat baterai diisi dari kosong sampai 50 persen. Hasil terbaik justru dicatat HP generasi lalu, yakni iQOO 13 dan OnePlus 13, dengan rata-rata di atas 50 watt.
OnePlus 15 memang mundur dibanding pendahulunya, tetapi tetap jadi HP generasi terbaru dengan pengisian tercepat. Di bawahnya ada Xiaomi 17 Pro Max, seri Honor Magic, Huawei Pura 90 Pro Max, dan Red Magic.
Sebagian besar HP yang diuji punya rata-rata 30 sampai 40 watt. Kelompok ini mencakup flagship utama Huawei, Xiaomi, Oppo, Vivo, dan Honor beserta sub-mereknya, Nubia, hingga Galaxy S26 Ultra. Berapa pun daya pengisian yang diiklankan, hasilnya tidak berbeda jauh.
iPhone paling lambat
iPhone berada di kelompok paling lambat. Bahkan iPhone 17 Pro Max yang paling cepat di antara iPhone hanya mencatat rata-rata di bawah 29 watt.
Namun sejumlah HP Android tidak jauh lebih cepat dari iPhone. Seri Vivo X300 dan Xiaomi 17 Ultra hanya sedikit lebih cepat dari iPhone 17 Pro Max, sedangkan Vivo X300 Pro yang mendukung pengisian 90 watt malah lebih lambat dari iPhone 17 Pro Max.
Baterai besar, pengisian mundur
Geekerwan juga membuat grafik kurva energi pengisian. Sumbu tegaknya menunjukkan energi yang benar-benar masuk ke baterai, bukan persentase, sedangkan sumbu mendatarnya menunjukkan waktu.
Dari kurva ini terlihat bahwa keunggulan pengisian berdaya tinggi hanya muncul di beberapa menit awal. Setelah itu, kecepatannya kurang lebih sama dengan pengisian 60 watt di HP Samsung yang selama ini dianggap lambat.
Pengaruh sistem pendingin
Seri Honor Magic, HP gaming Red Magic 11 Pro, dan HP berlayar besar umumnya lebih cepat dan lebih stabil saat diisi karena pendinginnya lebih baik. Sebaliknya, flagship kamera dan HP berlayar kecil yang sulit dipasangi pendingin besar cenderung lebih cepat menurunkan daya.
Makin besar baterai, makin sulit dipercepat
Geekerwan juga menemukan, semakin besar baterai, semakin sulit pula mempercepat pengisiannya. Ini berlaku bukan dalam hitungan persen, melainkan dalam jumlah energi yang sama, misalnya 20 Wh.
Penyebabnya kembali ke sifat silikon. Jika pengisian terlalu cepat, bagian luar butiran silikon sudah terisi lithium, sementara bagian dalamnya belum.
Perbedaan kadar dan tekanan antara bagian luar dan dalam butiran membuat silikon lebih mudah retak dan merobek lapisan SEI. Akibatnya, umur baterai turun dengan cepat.
Karena itu, pabrikan tidak lagi membuat pola pengisian makin agresif saat kapasitas baterai diperbesar. Sebagian malah lebih hati-hati, sehingga kecepatan pengisian HP berbaterai besar generasi ini umumnya mundur.
Geekerwan mengaku bisa memahami pengorbanan tersebut demi baterai yang lebih besar. Namun seperti halnya penguncian kapasitas, konsumen semestinya diberi tahu soal efek samping tersebut.
Kurva pengisian lebih dari 70 HP itu juga diunggah Geekerwan ke laman khusus daya tahan baterai di situs mereka, bersama peringkat Battery Life 5.0.
Geekerwan juga menilai efisiensi chip HP Android tidak mengalami kemajuan berarti. Akibatnya, banyak flagship standar dengan baterai yang tidak kecil hanya mampu menyamai daya tahan iPhone, HP Huawei, bahkan HP Samsung yang baterainya lebih kecil.
Pengujian yang memakan waktu hampir setengah tahun ini merupakan edisi kedua dari rangkaian uji perbandingan HP Geekerwan pada 2026. Edisi pertama membahas performa HP saat bermain game.
Daftar HP yang diuji
Video Geekerwan tidak membacakan hasil ke-78 HP satu per satu. Berikut daftar HP yang disebut dalam video dan liputan media China beserta hasil pengujiannya:
Daya tahan baterai (metode Battery Life 5.0)
- Honor WIN RT: 12 jam 6 menit
- Honor WIN: 11 jam 53 menit
- Redmi K90: masuk lima besar
- Redmi Turbo 5 Max: masuk lima besar
- Redmi K90 Max: masuk lima besar
- Xiaomi 17 Max: 10,5 sampai 11 jam
- Red Magic 11 Pro: sekitar 11 jam
- iQOO Z10 Turbo+: 10,5 sampai 11 jam
- iQOO Z11 Turbo: 10,5 sampai 11 jam
- OnePlus Ace 6T: 10,5 sampai 11 jam
- Redmi K90 Pro Max: 9 sampai 10 jam lebih
- Seri Honor Magic8: 9 sampai 10 jam lebih
- HP OnePlus generasi terbaru: 9 sampai 10 jam lebih
- Seri Huawei Pura 90 (tiga model): lebih dari 9 jam
- iQOO 15T: kurang dari 10 jam
- iQOO 15: lebih lama dari iQOO 15T
- iPhone 17 Pro Max: hampir 9 jam
- Seri Huawei Mate 80: 8 jam lebih
- Huawei Mate 70 Pro+: tidak berbeda jauh dari seri Mate 80
- Huawei Mate 60 Pro: lebih dari 2 jam di bawah seri Mate 80
- Xiaomi 17 Pro: kurang dari 8 jam
- Xiaomi 17: kurang dari 8 jam
- iPhone 17 Pro: 7 jam 19 menit
- Samsung Galaxy S26 Ultra: 7 jam 15 menit
- Samsung Galaxy S25 Ultra: sedikit di bawah Galaxy S26 Ultra
- iPhone 16 Pro Max: sedikit di atas 7 jam
- Xiaomi 15: sekitar 7 jam
- iPhone 17: 6 jam 25 menit
- Samsung Galaxy S25 Edge: kurang dari 6 jam
- iPhone 17 Air: kurang dari 6 jam
- iPhone 15 Pro Max: lebih lama dari Pixel 10 Pro XL
- Samsung Galaxy S25: lebih lama dari Pixel 10 Pro XL
- Google Pixel 10 Pro XL: 5 jam 51 menit
Kapasitas baterai yang bisa dipakai (dari 28 model yang dibongkar)
- Honor WIN: 87,84 persen (sekitar 8.500 mAh dari 10.000 mAh)
- Xiaomi 17: 89 persen
- Xiaomi 17 Pro Max: 89,78 persen
- OnePlus 13: kurang dari 90 persen
- Nubia Z80 Ultra: kurang dari 90 persen
- iQOO 15: 90 persen (6.155 mAh dari 7.000 mAh)
- Xiaomi 15: 91 persen
- HP Red Magic yang diuji: sekitar 92,56 persen
- Seri Vivo X300: sekitar 94 persen
- iQOO 15T: sekitar 94 persen
- HP Redmi: 94 sampai 95 persen
- Huawei Mate 70 Pro+: 96,98 persen
- iPhone 17 Pro Max: 97,83 persen
- Samsung Galaxy S26 Ultra: 98,34 persen
- Huawei Mate 80 Pro: 98,79 persen
- Oppo Find X9: 100,48 persen
- HP Oppo, OnePlus (termasuk OnePlus 15), dan Realme generasi terbaru lainnya: tidak dikunci
- HP Google: tidak dikunci
Rata-rata daya pengisian dari 0 sampai 50 persen
- iQOO 13: di atas 50 watt
- OnePlus 13: di atas 50 watt
- OnePlus 15: tercepat di antara HP generasi terbaru
- Xiaomi 17 Pro Max, seri Honor Magic, Huawei Pura 90 Pro Max, dan Red Magic: di bawah OnePlus 15
- Samsung Galaxy S26 Ultra serta sebagian besar flagship dan sub-merek Huawei, Xiaomi, Oppo, Vivo, Honor, dan Nubia: 30 sampai 40 watt
- Seri Vivo X300 dan Xiaomi 17 Ultra: sedikit di atas iPhone 17 Pro Max
- iPhone 17 Pro Max: di bawah 29 watt
- Vivo X300 Pro: di bawah iPhone 17 Pro Max
