/

4 Alasan Beli Samsung Galaxy A57 dan 3 Alasan untuk Pikir-pikir Dulu

4 mins read

Samsung Galaxy A57 hadir dengan bodi yang lebih tipis dan ringan dibanding pendahulunya, Galaxy A56.

Namun di luar urusan desain, peningkatan yang dibawa ponsel kelas menengah (midrange) ini tergolong tipis. Penilaian itu disampaikan David Brendi, pengulas gadget sekaligus host kanal YouTube teknologi asal Indonesia, dalam video ulasan Galaxy A57 yang ia unggah.

Menurut David, Galaxy A57 tetap menjadi seri Galaxy A5 terbaik sejauh ini, lebih bagus dari Galaxy A56 maupun Galaxy A55. Masalahnya, lompatan dari satu generasi ke generasi berikutnya terasa kurang greget.

“Tapi upgrade-nya itu kok tidak menggairahkan ya, enggak bikin semangat gitu,” kata David.

Ia menilai Samsung sudah terlalu nyaman dengan posisinya. Seri Galaxy A5 selalu laris setiap tahun, padahal ponsel kelas menengah merek lain seperti iQOO 15R, Poco X8 Pro Max, dan Redmi Note 15 Pro+ menawarkan spesifikasi yang tak kalah menarik.

Dari hasil pengujiannya, Galaxy A57 punya sejumlah nilai jual, tetapi juga beberapa kompromi yang perlu ditimbang sebelum membeli. Lantas, apa saja alasan untuk meminang Galaxy A57, dan kapan sebaiknya menahan diri?

Alasan membeli Galaxy A57

1. Enteng, tipis, dan bezel akhirnya ramping

Peningkatan paling terasa ada di bodi. Hasil timbangan David menunjukkan Galaxy A57 berbobot 180 gram, atau sekitar 10 persen lebih ringan dari Galaxy A56, dirangkum dari kanal YouTube GadgetIn.

Di atas kertas, Samsung mencantumkan bobot A57 179 gram dengan ketebalan 6,9 mm. Sementara itu, Galaxy A56 berbobot 198 gram dengan ketebalan 7,4 mm.

Kalau kedua ponsel dijajarkan, selisih ketebalan itu memang tidak terlalu kelihatan. Namun saat digenggam, David merasakan kombinasi bodi tipis dan bobot ringan membuat A57 jauh lebih nyaman dibanding A56.

Material premium tetap dipertahankan. Bagian depan dan belakang dilapisi Gorilla Glass Victus+, sedangkan rangkanya memakai aluminium. Modul kamera belakang kini berdesain agak transparan yang terinspirasi Galaxy S26 Ultra, berbeda dari A56 yang memakai bingkai solid.

Layarnya berupa panel Super AMOLED+ 6,7 inci dengan refresh rate 120 Hz, tetapi kini dengan bezel yang lebih tipis. Sisi kiri, kanan, dan atas sudah cukup mepet ke rangka. Bagian dagunya masih sedikit lebih tebal, tetapi sudah enak dilihat.

“Ini bentuk yang udah ditunggu sejak 2 sampai 3 tahun lalu,” ujar David.

2. Naik kelas ke IP68

Galaxy A57 kini mengantongi sertifikasi tahan air dan debu IP68, naik dari IP67 milik Galaxy A56. Dengan rating ini, A57 bisa bertahan di kedalaman air hingga 1,5 meter selama 30 menit, sementara A56 hanya sampai 1 meter.

Menurut David, bodi metal dan ketahanan air dulu menjadi keistimewaan seri Galaxy A5 ketika banyak ponsel sekelasnya masih berbodi plastik. Kini ponsel kelas menengah merek lain sudah mulai menyusul.

3. Video selfie stabil, zoom video lebih mulus

Kamera depan Galaxy A57 bisa merekam video hingga resolusi 4K 30 fps. David memuji dynamic range-nya saat diuji di bawah terik matahari. Wajah, langit biru, awan putih, hingga pepohonan beserta bayangannya tetap tertangkap dengan baik. Hasil rekamannya juga stabil dan tajam.

Kekurangannya, frame rate mentok di 30 fps. David berharap Samsung menambahkan opsi 60 fps lewat update software pada kemudian hari.

Di kamera belakang, perbedaan terlihat pada transisi zoom saat merekam video. Di A57, perpindahan zoom berjalan mulus, tidak patah-patah seperti di A56. David menilai A56 secara teknis mestinya bisa mendapat perbaikan serupa lewat update karena mesin dan sistemnya sama. Hanya saja, keputusan itu ada di tangan Samsung.

4. Update panjang, konektivitas lebih baru

Galaxy A57 mendapat dukungan update software hingga enam tahun, sama seperti A56. Karena rilis setahun lebih belakangan, A57 masih akan kebagian update satu tahun lagi ketika dukungan A56 berakhir, yang diperkirakan David terjadi pada 2031.

Dari sisi konektivitas, A57 sudah memakai Bluetooth 5.4, naik dari Bluetooth 5.3 di A56. David menyebut versi ini punya latensi lebih rendah dan lebih hemat daya. Ponsel ini juga mendukung Wi-Fi 6E yang bisa memakai frekuensi 6 GHz, serta NFC. Menurut dia, speaker stereonya juga enak didengar, dengan volume kencang dan bass yang cukup terasa.

Alasan untuk menahan diri

1. Performa naik tipis, game belum mulus

Galaxy A57 ditenagai chipset Exynos 1680 yang di atas kertas terdengar satu generasi di atas Exynos 1580 milik A56. Namun menurut David, perbedaannya hanya pada komposisi inti prosesor.

Exynos 1580 memakai satu inti utama (prime core), tiga inti performa, dan empat inti efisiensi. Sementara itu, Exynos 1680 memakai satu inti utama, empat inti performa, dan tiga inti efisiensi. David mengibaratkannya seperti armada yang cuma ditukar posisinya, dengan jenis kendaraan yang sama.

“Tidak ada teknologi baru di sini,” kata David.

Skor benchmark A57 memang lebih tinggi, dengan skor AnTuTu v10 sekitar 820.000 berbanding sekitar 740.000 milik A56. Keunggulan paling besar ada di skor multi-core, tetapi David mencatat konsumsi dayanya juga lebih boros.

Untuk main game, hasil pengujian David juga kurang memuaskan. Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) belum bisa stabil di 120 fps. Genshin Impact di setting medium hanya mencapai sekitar 40 fps, dengan suhu bodi yang menyentuh 47-48 derajat celsius di adegan berat. Samsung mengeklaim sistem pendingin vapor chamber A57 13 persen lebih besar, tetapi David tidak merasakan dampaknya ke performa maupun suhu.

2. Baterai dan kamera nyaris sama dengan A56

Kapasitas baterai A57 tetap 5.000 mAh, dengan daya tahan yang dinilai David standar saja. Dalam pengujiannya, streaming YouTube selama satu jam lewat Wi-Fi menguras baterai 6-7 persen. Navigasi Maps dengan koneksi seluler selama 1,5 jam menghabiskan 11 persen, MLBB setengah jam 8 persen, dan Genshin Impact setengah jam 14 persen.

Pengisian dayanya cukup cepat, hingga 45 watt. Dalam 30 menit, baterai terisi 64 persen, lalu 79 persen di menit ke-40. Setelah itu pengisian melambat hingga butuh 1 jam 10 menit untuk penuh.

Konfigurasi kamera belakangnya juga sama persis dengan tahun lalu, yakni kamera utama 50 MP dengan OIS, ultrawide 12 MP, dan makro 5 MP, tanpa lensa telefoto. Saat dibandingkan berdampingan, hasil foto A57 dan A56 nyaris tidak berbeda. Karakter warnanya cerah tapi agak flat, dengan tingkat detail yang sama.

“Saya enggak bilang kameranya jelek ya. Kalau Anda suka sama kamera Samsung, kamera A56, Anda bakal dapetin hasil yang sama di Galaxy A57,” tutur David.

3. Harga resmi terlalu mahal

Bagi David, layak tidaknya Galaxy A57 dibeli sangat bergantung pada harganya. Sebagai pembanding, Galaxy A56 varian 8/256 GB dijual sekitar Rp 5,9 juta di toko tempat ia mendapatkan unit ulasannya.

Sementara itu, harga resmi Samsung Indonesia untuk Galaxy A57 varian yang sama dipatok Rp 8.299.000. Saat video tersebut dibuat, Samsung memberikan harga promo periode terbatas Rp 7.499.000. Artinya, selisihnya dengan A56 mencapai sekitar Rp 2,4 juta, atau Rp 1,6 juta dengan harga promo.

“Beh, itu harga yang udah jelas kemahalan ya! Jangan beli pakai harga gitu, hindarin,” kata David.

Dengan patokan harga resmi itu, David lebih menyarankan Galaxy S25 FE yang harga pasarannya sekitar Rp 8,8 juta. Ponsel tersebut sudah dibekali prosesor flagship, kamera telefoto, USB 3.1, memori UFS 4.0, Samsung DeX, dan wireless charging. Galaxy A57 sendiri masih memakai port USB-C 2.0, belum mendukung wireless charging, dan tidak punya slot microSD.

“Buat saya, A57 ini semahal-mahalnya selisih Rp500.000 sampai mentok Rp1 juta lah dari A56,” ujarnya.

Berikut harga resmi Samsung Galaxy A57 di Indonesia:

Harga Samsung Galaxy A57

  • 8/128 GB: Rp 7.599.000
  • 8/256 GB: Rp 8.299.000
  • 12/256 GB: Rp 8.999.000

Saat video dibuat, banyak toko di e-commerce menjual Galaxy A57 varian 8/256 GB di kisaran Rp 6,8 juta hingga Rp 7 juta. Dengan selisih sekitar Rp 1 juta dari A56, David menyerahkan pilihan kepada selera pembeli, antara ponsel yang lebih enteng dan cantik atau A56 yang lebih hemat dengan isi yang mirip.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.