/

Kelebihan dan Kekurangan Poco F9 Ultra

5 mins read

Sejumlah pengulas teknologi menilai Poco F9 Ultra unggul di urusan baterai, performa, dan speaker, tetapi kamera, suhu, dan layarnya masih menyimpan catatan.

Dua di antaranya adalah Glenn Chua dari situs teknologi asal Singapura dan Daniel Schmidt dari situs teknologi asal Jerman. Keduanya menjajal F9 Ultra setelah peluncuran globalnya pada awal September 2026.

Di Indonesia, ponsel flagship ini baru akan mulai dijual pada 6 Oktober 2026.

Poco F9 Ultra masih ditenagai Snapdragon 8 Elite Gen 5, chip yang sama dengan pendahulunya, Poco F8 Ultra. Desainnya pun nyaris identik dengan F8 Ultra, lengkap dengan modul kamera besar di punggung.

Schmidt memberi skor 89 persen untuk ponsel ini.

“F9 Ultra adalah paket yang kuat secara keseluruhan, tetapi tidak sepenuhnya lebih baik dari pendahulunya,” tulis Schmidt.

Sementara itu, Chua menilai F9 Ultra sudah tidak menjadi “pembunuh flagship” lagi di tengah harga yang naik dibanding pendahulunya.

“Status pembunuh flagship itu masih berlaku, tetapi definisinya jauh lebih sempit kali ini,” tulis Chua.

Menurut Chua, ponsel ini paling cocok untuk pengguna yang rutin bermain game dan mencari pilihan hemat di tengah mahalnya ponsel flagship.

Berikut rincian kelebihan dan kekurangan Poco F9 Ultra berdasarkan hasil pengujian kedua pengulas, dilengkapi spesifikasi resmi dari Poco.

Baterai jumbo, isi daya kilat

Kelebihan pertama ada di baterai. Poco F9 Ultra dibekali baterai silikon-karbon berkapasitas 8.050 mAh, naik sekitar 24 persen dari 6.500 mAh di F8 Ultra. Kandungan silikon pada baterainya mencapai 16 persen.

Selama pengujian, Chua tidak pernah menghabiskan baterai dalam sehari pemakaian normal. Menurut dia, daya tahannya termasuk tinggi di antara ponsel yang pernah diuji timnya. Meski begitu, Chua mencatat sejumlah ponsel kelas “Ultra” lain masih bisa melampauinya.

Saat dipakai bermain Bang Dream: Girls Band Party selama sekitar 40 menit dengan kecerahan layar 20 persen, baterainya hanya terpakai 7 persen. Game itu berjalan konsisten di 120 frame per detik (fps), angka maksimal yang dibatasi game tersebut.

Pengisian dayanya juga cepat. Dalam pengujian Schmidt dengan charger 100 watt, baterai terisi 50 persen dalam 22 menit, 80 persen dalam 41 menit, dan penuh dalam 53 menit.

Poco juga membekali F9 Ultra dengan pengisian nirkabel 50 watt. Ponsel ini bahkan bisa mengisi daya perangkat lain hingga 27 watt lewat kabel dan 22,5 watt secara nirkabel.

Performa kencang, suhu ikut tinggi

Snapdragon 8 Elite Gen 5 di F9 Ultra memiliki dua inti utama berkecepatan 4,6 GHz dan enam inti performa berkecepatan 3,62 GHz. Chip ini dipadukan dengan RAM LPDDR5X dan penyimpanan UFS 4.1. Untuk menjaga suhu, Poco memasang sistem pendingin 3D IceLoop.

Untuk performa, Schmidt mencatat skor Geekbench 6.7 sebesar 3.602 poin untuk pengujian satu inti dan 10.922 poin untuk pengujian banyak inti prosesor. Geekbench mengukur kemampuan prosesor (CPU). Ponsel ini juga mencatat 19.586 poin di PCMark, aplikasi uji yang menyimulasikan pekerjaan sehari-hari di ponsel.

Untuk game, Poco menambahkan chip grafis terpisah VisionBoost D8. Chip ini menangani peningkatan kualitas gambar dan menyisipkan frame tambahan supaya gerakan di layar terlihat lebih mulus. Ada pula fitur WildBoost yang menyediakan pembersih memori sekali ketuk, pengaturan sensitivitas sentuhan, penolak sentuhan tak sengaja, dan pengoptimal Wi-Fi di dalam game. Chua menyebut F9 Ultra sama sekali tidak kesulitan menjalankan game yang ia uji.

Menurut Schmidt, Poco menjaga performa tinggi yang stabil dengan konsekuensi suhu ponsel yang tinggi. Ia menyebut ponsel ini menjadi sangat panas saat diberi beban berat dalam waktu lama.

Chua mencatat suhu ponsel mencapai sekitar 40 derajat Celsius saat menjalankan benchmark berulang kali. Ponsel juga terasa panas saat disentuh setelah 20 menit dipakai bermain game sambil diisi daya.

Speaker jempolan, bodi makin rapi

Kelebihan lain ada di speaker racikan Bose. F9 Ultra memakai sistem audio 2.1. Sistem ini terdiri dari dua speaker stereo dan satu subwoofer, speaker khusus untuk nada rendah.

Menurut Chua, suara musik terdengar sangat baik untuk ukuran ponsel dan volumenya bisa sangat keras. Ia mencatat dentuman perkusinya terasa menonjol, meski bisa menenggelamkan instrumen bernada tengah. Menurut dia, nada tinggi tetap terdengar jelas tanpa terasa kasar atau cempreng.

Subwoofer itu kini dikelilingi cincin lampu LED yang bisa menyala sebagai penanda notifikasi atau efek cahaya di dalam game.

Dari sisi desain, lensa kamera kini rata dengan modulnya. Ponsel pun tidak goyang saat diletakkan di meja. Pada F8 Ultra, lensanya masih menonjol. Lampu flash di F9 Ultra kini juga menggantikan lensa hiasan yang ada di modul kamera pendahulunya.

Schmidt menilai kualitas rakitannya mengesankan, dengan celah antarkomponen yang rapat dan permukaan yang tidak mudah meninggalkan bekas sidik jari. Ia juga menyebut sensor sidik jari ultrasonik di bawah layarnya cepat dan andal.

Bodi F9 Ultra berukuran 163,5 x 77,9 x 8,7 mm dan layarnya dilindungi kaca Corning Gorilla Glass 7i. Ponsel ini juga mengantongi sertifikasi tahan air dan debu IP68. Namun, bobotnya mencapai 235 gram. Modul kamera yang besar juga membuat ponsel terasa berat di bagian atas.

Kamera justru mundur

Catatan berikutnya ada di kamera. Schmidt menilai kamera utama 200 MP justru mundur. Resolusinya memang naik dari 50 MP di F8 Ultra. Namun, sensornya kini berukuran 1/1,56 inci, lebih kecil dibanding sensor Light Fusion 950 berukuran 1/1,31 inci di pendahulunya.

Ukuran sensor berpengaruh pada banyaknya cahaya yang bisa ditangkap kamera. Schmidt mencatat foto siang hari F9 Ultra tetap bagus, tetapi hasil fotonya dalam kondisi minim cahaya lebih buruk dibanding pendahulunya.

Chua mencatat kamera utama itu tetap menghasilkan detail yang sangat baik dan menjaga area terang. Namun, detail di area bayangan sering hilang. Ia juga menilai warna fotonya cenderung kalem. Saat mode 200 MP diaktifkan, detail foto yang terekam bertambah.

Chua menyebut kamera ultrawide 50 MP cenderung membuat warna pudar. Kamera telefoto periskop 50 MP dengan zoom optik 5x malah sering menghasilkan warna terlalu pekat. Tulisan yang dipotret pada zoom 5x juga bisa tampak rusak.

“Ponsel ini punya kelebihan untuk urusan foto, tetapi tidak cukup konsisten untuk menjadi teman andalan para pencinta fotografi, baik kasual maupun bukan,” tulis Chua.

Untuk video, kamera belakang F9 Ultra bisa merekam hingga resolusi 8K 30 fps. Kamera depan 32 MP mendukung perekaman 4K 30 fps.

Layar terang, penilaian terbelah

Poco mengeklaim layar AMOLED 6,9 inci di F9 Ultra mampu mencapai 4.500 nits pada 25 persen area layar, naik dari 3.500 nits di F8 Ultra. Namun, penilaian pengulas soal layar ini tidak seragam.

Chua menilai warnanya tidak istimewa dan permukaannya cukup memantulkan cahaya di bawah sinar matahari. Menurut dia, fitur peningkat kualitas gambar Dual Core Visuals juga tidak terlalu terasa hasilnya.

Schmidt justru menyebut layarnya mengesankan. Ia mengukur kecerahan puncaknya mencapai 8.500 nits, di bawah klaim Poco sebesar 10.000 nits pada 1 persen area layar.

Schmidt juga menemukan kedipan layar (PWM) di frekuensi 120 Hz. Menurut dia, frekuensi itu sangat rendah sehingga bisa membuat mata lelah.

Refresh rate 185 Hz pun hanya aktif di lebih dari 20 game pilihan yang daftarnya tidak dibuka Poco. Di luar itu, layar berjalan di 120 Hz. Schmidt juga menyayangkan layar F9 Ultra belum memakai teknologi LTPO penuh. Layar LTPO bisa menurunkan refresh rate sangat rendah untuk menghemat baterai. Di F9 Ultra, refresh rate terendahnya 30 Hz.

Charger absen, iklan masih ada

Charger tidak disertakan di dalam kotak penjualan. Halaman resmi peluncuran Poco F9 series di situs Xiaomi Indonesia pun menyebut tidak ada adaptor daya di dalam kotak F9 Ultra yang dijual di Tanah Air.

Xiaomi menyarankan pengguna memakai adaptor resmi Xiaomi 100 watt ke atas atau charger PD yang kompatibel. Dengan charger pihak ketiga 65 watt, Chua hanya bisa mengisi baterai 19 persen dalam 30 menit.

Antarmuka HyperOS 3 berbasis Android 16 juga masih memuat iklan. Toko aplikasi milik Xiaomi terpasang bawaan dan terus mengirim notifikasi. Widget cuacanya pun membuka aplikasi cuaca lain yang berisi iklan.

Schmidt menyebut iklan itu tidak seagresif di ponsel murah, tetapi tetap ada.

Chua juga menilai aneh ponsel ini dikirim dengan HyperOS 3.0 berbasis Android 16. Padahal, HyperOS 3.3 berbasis Android 17 sudah tersedia sejak Juli 2026. Poco menjanjikan F9 Ultra akan mendapat empat tahun pembaruan sistem operasi dan enam tahun pembaruan keamanan. Schmidt menilai komitmen itu kurang ambisius untuk ponsel di kelas harga ini.

Ia juga mencatat F9 Ultra belum mendukung Wi-Fi di pita 6 GHz, teknologi ultra-wideband (UWB) untuk pelacakan jarak dekat, dan sensor barometer.

Harga Poco F9 Ultra di Indonesia

Poco F9 Ultra di Indonesia hanya tersedia dalam satu varian 16 GB/512 GB dengan pilihan warna Dark Cherry dan Black. Ponsel ini dijual lewat situs resmi Xiaomi, Tokopedia, dan TikTok Shop.

Harga normalnya Rp 13.999.000, atau Rp 1 juta lebih mahal dibanding F8 Ultra 16 GB/512 GB yang dijual Rp 12.999.000 di Xiaomi Official Store per 25 September 2026.

F9 Ultra dijual dengan harga promo Rp 12.499.000 pada 6-15 Oktober 2026, sebelum menjadi Rp 13.699.000 pada 16-25 Oktober 2026.

Pembeli juga mendapat tambahan garansi satu tahun, satu kali layanan gratis ganti atau perbaikan layar dalam enam bulan, serta uji coba YouTube Premium dan Google AI Pro selama tiga bulan.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.