Kanal YouTube teknologi asal China, Geekerwan, menguji performa gaming lebih dari 40 ponsel dalam video pengujian tahunannya yang diunggah pada awal 2026.
Hasilnya, hampir semua vendor ponsel Android asal China dituding memberikan unit ulasan yang sudah “disetel khusus” kepada media, supaya performanya terlihat lebih kencang dan lebih dingin daripada unit yang dijual ke konsumen. Satu-satunya vendor yang dinilai bermain jujur adalah Apple.
Perlu dicatat, hasil pengujian dan temuan Geekerwan ini tidak bisa dijadikan acuan utama untuk ponsel yang dijual di Indonesia. Sebagian besar ponsel yang diuji adalah model untuk pasar China, dan sebagian di antaranya tidak dijual resmi di Tanah Air. Versi yang beredar di Indonesia bisa memakai perangkat lunak dan pengaturan performa yang berbeda, sehingga hasilnya belum tentu sama.
Pengujian ini merupakan bagian pertama dari seri perbandingan besar ponsel yang digelar Geekerwan setiap tahun. Tahun ini, cakupannya diperluas. Di samping ponsel flagship, Geekerwan juga menguji ponsel sub-flagship dan kelas menengah.
Seri tersebut dibagi menjadi empat bagian, yakni performa gaming, daya tahan baterai, kamera, serta kelancaran sistem. Menurut pembawa acara Geekerwan, Yunfei, standar pengujian tahun ini juga dibuat lebih ketat dibanding tahun lalu, dengan lebih banyak metode untuk membongkar “trik” vendor.
Yang dimaksud dengan unit media adalah ponsel yang dikirim vendor ke media dan kreator sebelum produk resmi dijual. Unit ini dipakai untuk ulasan dan video hands-on pertama yang biasanya paling banyak ditonton.
Menurut Yunfei, masalahnya banyak vendor gemar “bermain” di unit media. Pertama, chip di dalam unit media diduga dipilih dari hasil produksi yang kualitasnya paling bagus dan paling hemat daya. Kedua, vendor diduga menyiapkan pengaturan kinerja (scheduling) khusus yang disesuaikan dengan alur pengujian media.
Media pun sulit membuktikannya. Sebab, sebelum ponsel resmi dijual, tidak ada unit ritel yang bisa dibeli untuk dijadikan pembanding.
Tahun lalu disamarkan, tahun ini dibuka
Yunfei mengatakan, Geekerwan sebenarnya sudah membongkar praktik ini dalam pengujian tahun lalu. Namun saat itu, nama vendor masih disamarkan menjadi “model A” dan “model B”.
Ia semula mengira vendor akan menahan diri setelah itu. Kenyataannya, praktik tersebut justru makin parah pada generasi ponsel terbaru.
Menurut Yunfei, salah satu penyebabnya adalah peningkatan chip flagship generasi ini yang tergolong tipis. Snapdragon 8 Elite Gen 5 bikinan Qualcomm dan Dimensity 9500 buatan MediaTek disebutnya sebagai peningkatan “peras pasta gigi”, istilah di China untuk peningkatan yang sedikit demi sedikit.
Vendor dinilai akan sulit menunjukkan selisih performa yang jauh dibanding generasi sebelumnya, yakni Snapdragon 8 Elite dan Dimensity 9400, tanpa “trik” di unit media. Karena itu, Geekerwan kali ini memutuskan menyebut nama vendor secara terang-terangan dan membandingkan unit media dengan unit ritel yang dibeli sendiri.
iPhone jadi pengecualian
Dalam pengujian itu, iPhone menjadi pengecualian. Berkat pembaruan iOS 26.1 dan iOS 26.2, unit ritel iPhone yang diuji ulang justru mencatat frame rate dan konsumsi daya yang lebih baik dibanding unit media yang dulu dikirim Apple.
Yunfei mengakui, hal ini juga bisa berarti iOS 26.0 yang terpasang saat peluncuran memang kurang optimal. Namun secara umum, ia menilai Apple tergolong “jujur” dalam urusan ini.
Sebaliknya, hampir semua vendor Android yang ikut diuji disebut “tergelincir”.
“Tanpa terkecuali, semuanya melakukan penyetelan khusus dan curang. Tidak ada satu pun yang tidak bersalah,” kata Yunfei.
Selisih unit media dan unit ritel
Karena resolusi yang dipakai saat pengujian unit media berbeda-beda antar-vendor, Geekerwan tidak membandingkan satu merek dengan merek lain di bagian ini. Yang dibandingkan adalah unit media dan unit ritel dari model yang sama.
Oppo dan Vivo
Pada seri Oppo Find X9 yang ditenagai Dimensity 9500, unit media mampu menjalankan gim Honkai: Star Rail di resolusi 900p-an dengan frame rate penuh. Unit ritelnya tidak lagi sanggup, dengan frame rate turun ke kisaran 50 fps lebih sedikit.
Ponsel Vivo juga tidak jauh berbeda. Unit ritelnya memang masih mendekati frame rate penuh di resolusi 700p-an. Namun, konsumsi dayanya 1,3 watt lebih tinggi dibanding unit media.
Untuk ponsel yang konsumsi dayanya sekitar 5 watt lebih, selisih 1,3 watt itu terbilang besar. Menurut Yunfei, angka ini menunjukkan seberapa jauh unit media disetel.
OnePlus dan iQOO
Di kubu Qualcomm, OnePlus 15 versi unit media sanggup mempertahankan frame rate penuh selama 30 menit, sedangkan versi ritelnya hanya bertahan 15 menit.
Yunfei menilai, selisih pada OnePlus 15 masih tergolong kecil. Sebab, ponsel ini termasuk yang pertama meluncur dengan chip baru, sehingga belum ada pembanding dari vendor lain. Sub-flagship OnePlus Ace 6 dan Ace 6T yang meluncur belakangan justru menunjukkan jejak penyetelan khusus yang lebih kentara.
Untuk Ace 6T, Geekerwan bahkan sengaja menunggu ponsel resmi dijual, lalu menguji unit ritel sebelum menerbitkan ulasan. Menurut Yunfei, perbedaan konsumsi dayanya menunjukkan betapa “keras” penyetelan unit media.
iQOO 15 disebut lebih parah daripada OnePlus. Frame rate unit ritelnya sama dengan OnePlus 15, yakni hanya penuh selama 15 menit sebelum turun. Konsumsi dayanya pun jauh lebih tinggi dari unit media.
Xiaomi dan Redmi
Kasus Xiaomi lebih rumit. Unit media tiga ponsel seri Xiaomi 17 dikirim dengan fitur variable rate shading (VRS) yang dipaksa aktif dan tidak bisa dimatikan.
VRS adalah teknik yang menurunkan detail grafis di sebagian area layar supaya beban kerja chip berkurang. Dengan kata lain, performa didongkrak dengan mengorbankan kualitas gambar.
Setelah ponsel resmi dijual, VRS akhirnya bisa dimatikan. Namun, unit ritel seri Xiaomi 17 tercatat lebih lemah dari unit media. Menurut Geekerwan, pengaturan performanya turun satu tingkat dan konsumsi dayanya naik.
Redmi K90 Pro Max menjadi salah satu dari sedikit ponsel yang selisihnya tidak besar. Sebaliknya, Redmi K90 standar dan Redmi Turbo 5 Max disebut mengalami penyetelan unit media yang sangat keras, sehingga performa unit ritelnya tertinggal cukup jauh.
Honor
Di kubu Honor, Magic 8 Pro versi ritel mencatat frame rate lebih rendah, konsumsi daya 1 watt lebih tinggi, dan suhu yang jauh lebih panas dibanding unit media.
Honor WIN dan fitur Phantom
Honor WIN yang banyak dinanti juga tidak lolos. Unit ritelnya memang masih stabil berkat fitur penstabil frame rate milik Honor. Nama fitur ini dalam bahasa Mandarin bisa diterjemahkan bebas sebagai “Phantom”. Namun, konsumsi dayanya melonjak 1,7 watt hingga lebih dari 8 watt.
Panas berlebih itu membuat frame rate Honor WIN tidak bisa terus penuh seperti di unit media. Di paruh kedua pengujian, Phantom otomatis mati karena ponsel terlalu panas. Akibatnya, nilai 1% low unit ritel jauh lebih buruk.
Nilai 1% low adalah rata-rata frame rate pada 1 persen momen terburuk selama bermain. Angka ini dipakai untuk mengukur seberapa sering gim terasa tersendat, bukan sekadar rata-rata frame rate.
Nubia dan Red Magic
Nubia dan Red Magic disebut Yunfei sebagai “pelanggar lama”. Performa unit ritelnya memang tetap kencang, tetapi konsumsi dayanya jauh lebih tinggi.
Menurut Geekerwan, unit media dengan frame rate hampir sama tetapi konsumsi daya jauh lebih rendah sangat umum ditemukan. Dampaknya paling terasa pada suhu bodi ponsel.
Penonton melihat ulasan awal dan menganggap suhu ponsel masih wajar. Begitu dibeli dan dipakai bermain, ponsel ternyata jauh lebih panas dari yang terlihat di ulasan. Yunfei menyebut kejadian seperti ini sangat sering terjadi, dirangkum dari kanal YouTube Geekerwan.

Efek bola salju antar-vendor
Dari pengujian itu, Geekerwan juga menemukan bahwa ponsel yang meluncur belakangan cenderung disetel lebih parah dibanding ponsel yang meluncur lebih dulu.
Yunfei mencoba menjelaskan bagaimana hal ini terjadi di internal vendor. Misalnya, vendor A lebih dulu meluncurkan ponsel dengan chip baru, lalu diuji media.
Pimpinan vendor B melihat hasil pengujian itu dan meminta tim teknisnya membuat ponsel yang hasil ujinya harus lebih baik dari vendor A, dan hasil yang lebih buruk tidak akan diterima.
Menurut Yunfei, pimpinan tersebut belum tentu berniat curang. Ia mungkin hanya terlalu percaya pada kemampuan timnya.
“Namun sehebat apa pun tim teknisnya, mereka tetap harus tunduk pada hukum fisika. Dengan chip yang sama, kecuali penyetelan A memang terlalu buruk, bagaimana mungkin B pasti bisa mengalahkan A?” kata Yunfei.
Akhirnya, teknisi yang tidak bisa memenuhi target kinerja (KPI) dari pimpinan terdorong memakai jalan pintas. Pimpinan vendor C lalu melihat hasil vendor B dan menuntut hal serupa. Teknisi vendor C pun merasa harus ikut “curang” supaya bisa mengejar.
“Jadi awalnya mungkin hanya penyetelan ringan. Tetapi vendor yang meluncur belakangan tidak pernah mau kalah dari yang lebih dulu, sehingga tingkat kecurangannya terus membesar seperti bola salju,” ujar Yunfei.
Lewat video ini, Yunfei mengimbau vendor untuk serius menyetel ponsel secara benar dan tidak menghabiskan tenaga untuk trik semacam itu.
Kabar baik soal kecerahan layar
Ada pula kabar baik. Menurut Geekerwan, flagship generasi ini hampir tidak lagi menurunkan kecerahan layar secara drastis saat menjalankan gim berat.
Bahkan iPhone generasi terbaru tidak banyak menurunkan kecerahan dalam pengujian mereka. Setidaknya, dalam kondisi uji dengan kecerahan 300 nit, tidak ada ponsel yang meredupkan layar sampai terasa oleh penguji.
Arknights: Endfield, ujian di luar whitelist
Pengujian performa dimulai dengan Arknights: Endfield, gim buatan Hypergryph yang dirilis global pada 22 Januari 2026. Saat pengujian dilakukan, gim ini dinilai belum sempat masuk daftar optimasi khusus (whitelist) milik vendor, sehingga cocok dijadikan ujian pertama.
Whitelist adalah daftar aplikasi yang mendapat perlakuan khusus dari sistem ponsel, misalnya pengaturan performa atau respons sentuh yang lebih agresif. Aplikasi di luar daftar itu umumnya hanya mendapat pengaturan standar.
Geekerwan mengaku sempat berdiskusi dengan tim teknis Hypergryph dan membahasnya dalam video khusus. Salah satu informasi yang didapat, desain thread gim ini lebih menguntungkan CPU dengan dua inti besar.
Pengujian memakai preset grafis tertinggi, render scale tertinggi, dan resolusi 1036p. Rutenya adalah rute berlari di area yang disebut paling berat membebani CPU di seluruh gim.
iPhone 17 Pro Max paling efisien
Hasilnya, iPhone 17 Pro Max menjadi ponsel dengan efisiensi terbaik. Frame rate-nya tidak pernah turun selama pengujian, sementara konsumsi daya seluruh perangkat hanya 5,1 watt, jauh di bawah ponsel Android.
Dari nilai 1% low dan pengalaman langsung penguji, Yunfei menyebut pengalaman bermain di iPhone 17 Pro Max sangat mulus dan hampir tanpa patah-patah.
iPhone 17 Pro justru disetel jauh lebih “penakut”. Meski pendinginannya bagus, pengaturan performanya dibuat sangat konservatif. Setelah sekitar belasan menit, frame rate diturunkan karena pembatasan suhu, dengan konsumsi daya hanya 4,9 watt.
iPhone 17 standar yang memakai chip A19 malah tampil lebih baik dengan frame rate rata-rata 56 fps.
Ponsel Snapdragon 8 Elite Gen 5 terbaik
Di kubu Android, ponsel yang tampil baik adalah iQOO 15 dan iQOO 15 Ultra, OnePlus 15, Nubia dan Red Magic, Honor WIN, serta seri Honor Magic 8, yang semuanya memakai Snapdragon 8 Elite Gen 5.
iQOO 15 baru mengalami sedikit gejolak frame rate setelah 20 menit. Rata-ratanya 58 fps, dengan semua inti CPU dijaga di kisaran 1,6 GHz, sehingga konsumsi dayanya bisa ditekan di angka 6,4 watt.
Yunfei menilai harga iQOO 15 “terlalu tidak masuk akal”. Namun, ia mengakui ponsel ini termasuk sedikit ponsel Android yang benar-benar mampu mempertahankan frame rate penuh hampir sepanjang pengujian.
OnePlus 15 mencatat hasil yang mirip, karena CPU-nya juga dijaga di kisaran 1,6 GHz, dengan frame rate dan konsumsi daya yang hampir sama.
Red Magic dan Nubia disebut memakai cara yang “cerdik”. Keduanya tidak menjalankan chip secara maksimal, bahkan setelah mode performa tertinggi diaktifkan. Rata-rata frame rate-nya 57 fps dengan sedikit gejolak, tetapi konsumsi daya dan panasnya masih wajar.
Seri Honor Magic 8 juga dinilai disetel dengan baik. Honor WIN mencatat konsumsi daya sedikit lebih tinggi, tetapi keduanya sama-sama bertahan di kisaran 56-57 fps.
Kejutan dari Honor GT Pro dan Honor WIN RT
Kejutan terbesar justru datang dari dua ponsel Honor bertenaga Snapdragon 8 Elite generasi sebelumnya, yakni Honor GT Pro dan Honor WIN RT. Keduanya tetap mampu mencapai frame rate yang sangat tinggi.
Efisiensi Honor WIN RT bahkan disebut tidak jauh tertinggal dari Honor WIN yang memakai Snapdragon 8 Elite Gen 5. Menurut Yunfei, ini menunjukkan betapa tipis selisih dua generasi chip tersebut.
Kencang di awal, loyo di akhir
Ada juga ponsel yang frame rate-nya tinggi, tetapi konsumsi dayanya tidak dioptimalkan. Yang paling mencolok adalah Redmi K90 Pro Max.
Rata-rata frame rate-nya terlihat baik, yakni 56,4 fps. Namun, CPU-nya dipacu hingga sekitar 3 GHz. Selama 10 menit pertama, konsumsi dayanya melonjak hingga 10 watt, lalu frame rate turun karena ponsel tidak kuat menahan panas, dengan rata-rata konsumsi daya 8,2 watt sepanjang pengujian.
Yunfei menduga ponsel ini sama sekali belum disetel untuk gim tersebut.
Seri Xiaomi 17
Empat ponsel seri Xiaomi 17 juga tidak tampil meyakinkan. Xiaomi 17 Pro Max juga dipacu tinggi di awal, tetapi pendinginannya tidak sebaik Redmi K90 Pro Max. Akibatnya, frame rate cepat turun, efisiensinya buruk, dan suhunya melonjak mendekati 50 derajat celsius.
Dua model Xiaomi 17 lainnya mencatat frame rate dan efisiensi yang mirip. Keduanya dipacu habis-habisan di awal, lalu frame rate turun drastis. Di luar Samsung yang saat itu belum merilis ponselnya, deretan ponsel Xiaomi ini berada di posisi buncit di antara ponsel Snapdragon 8 Elite Gen 5.
Snapdragon 8 Elite generasi lalu
Sementara itu, banyak ponsel Snapdragon 8 Elite generasi sebelumnya tidak kalah dari penerusnya. Selain dua ponsel Honor tadi, iQOO Neo 11, OnePlus Ace 5 Pro, Xiaomi 15 Ultra, dan Oppo Find X8 Ultra mampu menembus 50 fps dengan konsumsi daya yang rendah. Ponsel Snapdragon 8 Elite lain umumnya berada di kisaran 40 fps lebih.
Ponsel Dimensity
Ponsel bertenaga Dimensity 9500 tidak tampil istimewa di gim ini. Menurut Geekerwan, Endfield memang kurang bersahabat bagi chip dengan satu inti super besar seperti rancangan MediaTek.
Seri Oppo Find X9 dan Vivo X300 mencatat frame rate yang tidak rendah. Namun, konsumsi dayanya jauh lebih tinggi dari ponsel Qualcomm, yakni di atas 7 watt, dengan suhu yang ikut tinggi.
Hasil lebih buruk dicatat iQOO Z10 Turbo+ dan Redmi K80 Ultra yang memakai Dimensity 9400+. iQOO dinilai terlalu agresif, sementara gim ini tidak masuk whitelist Redmi sehingga sama sekali belum disetel dan konsumsi dayanya melonjak.
Snapdragon 8 Gen 5 kelas menengah
Geekerwan juga menguji beberapa ponsel kelas menengah bertenaga Snapdragon 8 Gen 5. Chip ini diumumkan Qualcomm pada November 2025 sebagai chip di bawah Snapdragon 8 Elite Gen 5.
Di Endfield, efisiensinya jelas kalah dari Snapdragon 8 Elite. Konsumsi dayanya melonjak ke atas 7 watt, tetapi frame rate-nya hanya 40 fps lebih.
Menurut Yunfei, penyebabnya adalah memori cache Snapdragon 8 Gen 5 yang kecil. Chip ini paling kesulitan di area yang terus memuat aset peta dari penyimpanan. Saat karakter bergerak cepat, banyak aset baru harus dimuat ke cache sekaligus.
Yunfei menilai Endfield sebagai gim baru membuat sejumlah vendor kewalahan. Menurut dia, vendor Android kini sangat bergantung pada whitelist, padahal Endfield termasuk gim populer.
Karena itu, Yunfei menyarankan pengguna yang memainkan gim di luar whitelist untuk tidak berharap banyak pada performa ponsel mereka.
Wuthering Waves: iPhone kalah efisien
Gim berikutnya adalah Wuthering Waves versi 3.1, gim yang dipastikan sudah masuk whitelist vendor. Menurut Yunfei, versi ini cukup bagus sehingga banyak pemain kembali memainkannya, meski beban grafisnya tetap sangat tinggi.
Rute pengujian kali ini diperbarui, yakni mengendarai sepeda motor dengan kecepatan penuh di jalan melingkar kawasan Lahai-Roi. Rute ini juga memuat banyak aset secara terus-menerus, hal yang sulit ditangani gim open world.
Hasil iPhone
Di Android, semua ponsel diuji dengan resolusi dan kualitas grafis tertinggi. Di iOS, gim ini membatasi resolusi tertinggi di 718p.
Meski resolusinya lebih rendah, efisiensi iPhone tetap kalah dari Android. iPhone 17 Pro Max tidak mampu mempertahankan frame rate penuh sepanjang pengujian, dengan rata-rata 57,2 fps dan konsumsi daya 6,2 watt. Angka ini tergolong tinggi dibanding ponsel Snapdragon 8 Elite Gen 5 yang berjalan di resolusi 864p.
Yunfei mencatat, iPhone jarang sekali mencapai konsumsi daya 6 watt saat bermain gim. Menurut dia, pelepasan panas iPhone 17 Pro Max memang jauh lebih agresif dibanding iPhone sebelumnya.
iPhone 17 Pro dan iPhone 17 standar yang disetel lebih konservatif hanya mencapai sekitar 50 fps di 718p. Di Android, hasil ini setara ponsel Snapdragon 8 Gen 3 yang bagus.
Wuthering Waves dikembangkan dengan Unreal Engine 4 milik Epic Games. Yunfei menyindir Epic dan Apple sebagai “kenalan di ruang sidang”, merujuk pada sengketa hukum panjang kedua perusahaan. Menurut dia, optimasi iOS yang buruk pun sudah bisa ditebak.
Android yang tampil terbaik
Ponsel yang tampil terbaik di gim ini adalah Nubia dan Red Magic. Keduanya mempertahankan frame rate penuh tanpa kesulitan, dengan konsumsi daya 5,6 watt.
Honor juga tampil baik. Magic 8 Pro dan Honor WIN sama-sama mampu berjalan penuh. iQOO 15 Ultra mencatat frame rate penuh, sedangkan iQOO 15 hampir penuh dengan konsumsi daya yang cukup rendah.
Ponsel Xiaomi tampil lebih baik dibanding saat menjalankan Endfield, karena Wuthering Waves sudah masuk whitelist. Xiaomi 17 Pro Max dan Redmi K90 Pro Max hampir penuh dengan konsumsi daya yang wajar.
Namun, pendinginan Xiaomi 17 Pro Max dinilai kurang baik karena terbatas oleh layar belakang. Pendinginan Redmi K90 Pro Max justru sangat baik, dengan suhu serendah Red Magic.
Seperti di Endfield, Snapdragon 8 Elite Gen 5 tidak menunjukkan kemajuan berarti dibanding Snapdragon 8 Elite. Banyak ponsel generasi sebelumnya tampil sangat baik, seperti Realme GT8, OnePlus Ace 6, Honor WIN RT, dan iQOO Neo 11. Dua ponsel kamera, Oppo Find X8 Ultra dan Vivo X200 Ultra, juga mampu mendekati 60 fps.

Ponsel MediaTek
Ponsel MediaTek juga tampil cukup baik di gim ini. Seri Oppo Find X9 dan Vivo X300 bertenaga Dimensity 9500 memang tidak sekencang beberapa ponsel Snapdragon 8 Elite Gen 5. Namun, keduanya mendekati frame rate penuh dengan konsumsi daya yang rendah.
Geekerwan juga mencatat performa yang cukup baik pada Redmi Turbo 5 Max dan OnePlus Ace 5 Ultra, yang disebut berbasis platform Dimensity 9400.
OnePlus 15 hingga Redmi K90 tersendat
OnePlus dan Realme
OnePlus 15 justru mengecewakan. Ponsel ini tampil sangat lancar saat diuji sebagai unit media. Unit ritelnya kini mengunci frame rate di 45 fps setelah 18 menit karena pembatasan suhu. Pengalaman bermainnya bahkan kalah dari ponsel OnePlus bertenaga Snapdragon 8 Elite.
OnePlus Ace 5 Pro dan OnePlus 13T memakai strategi penguncian frame rate serupa. Hal serupa terjadi pada Realme GT8 Pro dari merek saudara OnePlus. Ponsel ini mulai mengunci frame rate setelah dimainkan 11 menit, sehingga kalah dari Realme GT8 yang lebih murah.
Xiaomi dan Redmi
Xiaomi 17 Pro, Xiaomi 17 Ultra, dan Xiaomi 17 standar juga tidak tampil baik. Makin lama dimainkan, frame rate ketiganya makin sering turun.
Yang paling parah adalah Redmi K90 bertenaga Snapdragon 8 Elite. Baru tujuh menit dimainkan, frame rate-nya dikunci di 30 fps. Sesekali frame rate kembali ke 60 fps, lalu turun lagi ke 30 fps.
Yunfei menilai grafik frame rate itu kacau dan membuat gim mustahil terasa lancar. Ia bahkan menyebut Redmi K90 seperti bukan dibuat oleh tim yang sama dengan Redmi K90 Pro Max.
Snapdragon 8 Gen 5 dan XRING O1
Sebaliknya, ponsel Snapdragon 8 Gen 5 tidak separah di Endfield. Tiga ponsel dengan chip ini sama-sama mencatat rata-rata di atas 58 fps. Selain OnePlus Ace 6T, konsumsi daya dua ponsel lainnya masih terkendali.
Menurut Yunfei, performa Snapdragon 8 Gen 5 di Wuthering Waves tidak kalah dari Snapdragon 8 Elite.
Hasil berbeda dicatat chip buatan Xiaomi sendiri, XRING O1. Dibanding saat menjalankan Endfield, performanya di Wuthering Waves justru lebih buruk. Frame rate turun setelah dimainkan sebentar, dengan rata-rata di bawah 50 fps.
Honkai: Star Rail, Red Magic dan Honor WIN di puncak
Gim langganan pengujian Geekerwan, Honkai: Star Rail, juga kembali diuji. Area The Golden Hour di gim ini masih dianggap salah satu yang paling berat bagi ponsel.
Gim ini membatasi resolusi di iOS, beberapa ponsel Snapdragon 8 Elite, dan semua ponsel Snapdragon 8 Gen 5 di kisaran 700p. Karena itu, Geekerwan menggelar dua putaran pengujian, yakni di 981p dan 763p.
Di 981p, dua ponsel teratas adalah Red Magic 11 Pro dan Honor WIN. Menurut Yunfei, tidak ada keajaiban di balik performa Red Magic. Ponsel ini hanya mengatur CPU dengan presisi, sekadar cukup untuk kebutuhan gim.
Red Magic 11 Pro
Rata-rata kecepatan inti super besarnya hanya 1,4 GHz, sedangkan inti menengahnya 1,2 GHz lebih. Karena beban Star Rail sangat berat, konsumsi dayanya tetap mencapai 7,6 watt, tetapi panasnya masih bisa ditahan.
Frame rate Red Magic 11 Pro pun nyaris penuh. Menurut Yunfei, hasil ini jelas menunjukkan ponsel sudah disetel khusus untuk skenario tersebut.
Layar samping tidak merespons
Namun, Red Magic 11 Pro bukan tanpa cela. Saat pengujian, layar sisi kiri dan kanan ponsel sempat tidak merespons sentuhan sama sekali. Masalah itu baru hilang setelah gim ditutup dan dibuka ulang.
Yunfei menduga masalah ini terkait sistem layar sentuh baru yang dipakai Red Magic generasi ini, dengan perangkat lunak yang diduga masih belum optimal.
Honor WIN
Honor WIN juga tampil sangat baik. Bahkan tanpa fitur Phantom, ponsel ini mampu mempertahankan 60 fps penuh selama 25 menit pertama.
Setelah itu, muncul sedikit gejolak, tetapi penurunannya sangat ringan dan masih di kisaran 57 fps. Selama 30 menit, rata-rata frame rate-nya 59,3 fps dengan konsumsi daya 7,8 watt dan suhu yang sedikit mepet, tetapi masih terkendali.
Efek fitur Phantom
Menurut Geekerwan, mengaktifkan Phantom tidak membantu saat frame rate mulai turun di akhir pengujian. Fitur ini lebih berguna untuk memperbaiki nilai 1% low saat frame rate masih penuh di 60 fps, sehingga gim tidak sesekali terasa tersendat.
Menurut Yunfei, masalah tersendat kecil seperti ini tidak bisa diatasi dengan cara vendor lain yang menaikkan frame rate lewat penyisipan frame (frame interpolation) hingga 120 fps.
Di awal pengujian, efek Phantom sangat terasa karena nilai 1% low hampir penuh di 60 fps, sehingga gim terasa sangat mulus. Namun di resolusi 981p, konsumsi daya terlalu tinggi, sehingga Phantom otomatis mati setelah ponsel memanas.
Ada harga di balik fitur Phantom
Yunfei menegaskan, Phantom bukan teknologi yang “gratis”. Dari pengujian unit ritel, fitur ini ternyata menambah jeda (latency).
Tambahan jeda dari triple buffering
Jeda itu berbeda dari jeda akibat penyisipan frame. Sumbernya adalah triple buffering, yakni teknik menyiapkan tiga “wadah” frame secara bergantian sebelum gambar ditampilkan ke layar.
Syarat Phantom bisa menstabilkan frame rate adalah selalu ada frame cadangan di “tampungan”. Karena itu, Honor memperbesar tampungan tersebut dengan triple buffering, supaya selalu ada frame yang siap dikeluarkan saat dibutuhkan.
Konsekuensinya, jeda bertambah. Proses membuat gambar dan menampilkan gambar juga jadi tidak lagi berjalan seirama.
Yunfei mencontohkan, Phantom terkadang terasa tidak mengikuti gerakan jari saat layar diusap. Jedanya bertambah 0 sampai 2 frame dibanding kondisi normal.
Tersendat kecil memang hilang, tetapi gim jadi terasa sedikit “lembek” saat dikendalikan.
Bug di seri Honor Magic 8
Geekerwan juga menemukan masalah Phantom di seri Honor Magic 8. Fitur ini bisa diaktifkan, tetapi tidak benar-benar mati saat dinonaktifkan. Penstabil frame rate memang berhenti, tetapi triple buffering tetap berjalan, sehingga jedanya masih ada.
Masalah ini tidak ditemukan di Honor WIN, sehingga Yunfei menilai Honor perlu memperbaiki bug tersebut di seri Magic 8.
Frame rate sempurna yang ternyata tidak nyata
Ponsel paling unik dalam pengujian ini adalah iQOO 15 Ultra. Dari angka yang terekam, performanya tampak luar biasa, dengan nilai 1% low mencapai 59 fps.
Namun, penguji merasa ada yang janggal saat bermain. Gimnya memang lancar, tetapi tidak semulus yang seharusnya.
Jika nilai 1% low benar-benar 59 fps, setiap frame seharusnya tampil dengan jarak waktu yang hampir tetap, yakni 16,67 milidetik. Rasanya seharusnya sangat mulus.
Yang dirasakan penguji justru mirip bermain dengan vertical sync (vsync) dimatikan. Vsync adalah mekanisme yang menyelaraskan waktu gim mengirim gambar dengan waktu layar menyegarkan tampilan. Tanpa vsync, respons terasa cepat, tetapi jarak waktu antar-frame tidak stabil.
Compositor yang terlepas dari gim
Geekerwan lalu merekam jejak proses sistem (trace) untuk menelusurinya. Hasilnya, compositor ponsel tampak sepenuhnya terlepas dari proses render gim. Compositor adalah komponen sistem yang menyusun gambar akhir sebelum tampil di layar.
Compositor selalu menyegarkan layar dengan ritme 60 Hz, tanpa menunggu frame dari gim. Artinya, siap atau tidak frame dari gim, layar tetap disegarkan setiap 16,67 milidetik. Karena itu, aplikasi pengukur selalu membaca garis 60 fps yang sempurna.
Masalahnya, saat tidak ada sentuhan di layar, gim bahkan tidak menerima sinyal vsync dari compositor. Gim berjalan dengan ritmenya sendiri, lepas dari 60 Hz.
Hanya saat ada sentuhan, gim kembali menerima sinyal vsync dan jarak antar-frame kembali mengikuti 60 Hz. Pada saat yang sama, iQOO menaikkan frekuensi GPU sesaat supaya waktu render bisa ditekan di bawah 16,67 milidetik.
Jadi, compositor selalu melaporkan 60 fps, padahal waktu frame gim sebenarnya terus bergeser, sehingga muncul sensasi patah-patah halus.
Yunfei tidak mempersoalkan apakah cara ini membuat bermain lebih enak atau tidak. Bisa saja cara ini justru mengurangi jeda, tetapi menurut dia, frame rate yang terukur dengan cara itu tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.
Algoritma visual untuk pengujian
Trik yang tidak bisa ditangkap alat ukur seperti ini diperkirakan akan makin banyak. Karena itu, Geekerwan berencana mulai memakai algoritma berbasis visual untuk menguji gim.
Menurut Yunfei, trik vendor mungkin makin beragam, tetapi selalu ada cara untuk membongkarnya.
Suhu tembus 50 derajat
Kembali ke hasil Star Rail di 981p, Nubia Z80 Ultra bertenaga Snapdragon 8 Elite Gen 5 dan Honor WIN RT bertenaga Snapdragon 8 Elite juga tampil sangat kencang. Namun, keduanya mengandalkan konsumsi daya 8-9 watt, sehingga suhunya melonjak.
Mode performa tertinggi di Nubia Z80 Ultra bahkan lebih agresif dibanding milik Red Magic, dengan suhu tembus lebih dari 50 derajat celsius. Yunfei pun berkelakar menyebutnya sebagai “mode matang”.
Redmi K90 Pro Max justru mendapat pujian dari Yunfei. Di gim yang masuk whitelist, ponsel ini tampil baik dan menjadi yang terbaik di antara ponsel Xiaomi dan Redmi.
Realme GT8 Pro dan iQOO 15 sedikit di bawahnya, tetapi masih tergolong baik. Ponsel Snapdragon 8 Elite Gen 5, Snapdragon 8 Elite, Dimensity 9500, dan Dimensity 9400 lainnya berada di level yang mirip. Sebagian besar di atas 50 fps, dengan konsumsi daya di atas 7 watt.
Ada juga yang buruk. OnePlus Ace 6, iQOO Neo 10 Pro+, OnePlus 13T, Realme GT8, dan Redmi K90 tidak mampu menembus 50 fps di 981p, begitu pula Xiaomi 15S Pro. Untuk Redmi K90, ini bukan pertama kalinya ponsel tersebut disorot dalam pengujian.
Hasil di resolusi 763p
Di resolusi 763p, efisiensi iPhone kembali membaik. Menurut Yunfei, ini karena Star Rail dikembangkan dengan mesin gim Unity.
iPhone 17 Pro Max mampu berjalan penuh dengan konsumsi daya 5 watt lebih, masih lebih rendah dibanding ponsel Snapdragon 8 Elite Gen 5. iPhone 17 dan iPhone 17 Pro mengalami gejolak frame rate lebih besar, tetapi masih tergolong lancar.
Di resolusi ini, sebagian besar ponsel Snapdragon 8 Elite Gen 5, Dimensity 9500, dan Snapdragon 8 Elite, bahkan tiga ponsel kelas menengah Snapdragon 8 Gen 5, mampu berjalan hampir penuh. Pengecualiannya adalah Xiaomi 17 standar dan Redmi K90 yang disetel terlalu hati-hati.
Diuji di suhu 30 derajat dengan jaringan 5G
Pada resolusi 763p, Geekerwan juga menambah pengujian yang mereka sebut “uji iblis”, yakni bermain di suhu ruangan 30 derajat celsius dengan jaringan 5G. Pengujian ini memakai jaringan inti 5G yang dibangun sendiri oleh Geekerwan.
Geekerwan mengeklaim menjadi pihak pertama yang berhasil menguji konsumsi daya gaming lewat jaringan 5G dengan cara ini. Pengujian ini juga dipakai untuk melihat apakah ada perbedaan dibanding bermain di suhu normal.
Ponsel yang tetap stabil
Di suhu tinggi, banyak ponsel “tumbang”, tetapi iPhone 17 Pro Max termasuk yang bertahan. Di suhu 30 derajat dengan 5G, frame rate-nya masih hampir penuh dan tidak banyak berkurang dibanding pengujian di suhu 25 derajat dengan Wi-Fi.
Menurut Yunfei, peningkatan pendinginan iPhone generasi ini sudah terlihat jelas.
OnePlus 15, OnePlus Ace 6, dan OnePlus Ace 6T bertenaga Snapdragon 8 Gen 5 hampir tidak mengalami penurunan frame rate. Semua ponsel iQOO yang diuji, Honor WIN dan WIN RT, Red Magic, Nubia, Redmi K90 Pro Max, Redmi Turbo 5 Max, Redmi K80 Ultra, Oppo Find X8 Ultra, dan Realme Neo8 juga cukup stabil.
Seri Oppo Find X9 dan Vivo X300 bertenaga Dimensity 9500 mengalami sedikit penurunan frame rate, tetapi masih bertahan dengan angka yang tidak buruk.
Ponsel yang paling terpengaruh
Ponsel yang paling terpengaruh adalah iPhone 17 Pro yang dibatasi suhunya, seluruh keluarga Xiaomi 17, Xiaomi 15S Pro dengan chip XRING dan modem MediaTek terpisah, Xiaomi 15 Ultra, serta Realme GT8 Pro, yang frame rate-nya turun cukup parah.
5G tidak jauh lebih boros
Dari sisi konsumsi daya, hasilnya cukup mengejutkan penguji. Bermain lewat 5G ternyata tidak jauh lebih boros dibanding Wi-Fi, bahkan dengan tambahan suhu 30 derajat.
Beberapa ponsel memang lebih boros saat memakai 5G. Namun, ada juga ponsel yang konsumsi dayanya hampir sama.
Menurut pengalaman Geekerwan, 5G baru terasa sangat boros saat sinyal lemah, atau saat ponsel sering berpindah menara pemancar dan mencari jaringan. Gim biasa, selain cloud gaming, juga tidak membutuhkan bandwidth besar. Jadi, dalam pengujian laboratorium tanpa sinyal lemah, perbedaan konsumsi daya 5G dan Wi-Fi belum tentu terlihat.
Honor of Kings, giliran MediaTek berjaya
Pengujian terakhir memakai Honor of Kings yang bebannya ringan. Karena iPhone hanya mendukung 120 fps dengan kualitas grafis HD, iPhone tidak dibandingkan dengan ponsel Android yang diatur di 120 fps.
Hasilnya di luar dugaan Yunfei. Ponsel paling efisien justru ponsel Oppo dan Vivo bertenaga Dimensity 9500. Seri Find X9 dan X300 mencatat konsumsi daya seluruh perangkat terendah, sekitar 3 watt.
OnePlus Ace 5 Ultra dan iQOO Z10 Turbo+ yang memakai keluarga Dimensity 9400 juga mencatat konsumsi daya yang baik.
Sebaliknya, ponsel Snapdragon 8 Elite Gen 5 tidak punya keunggulan efisiensi dibanding Snapdragon 8 Elite di gim ini. Menurut Yunfei, hal ini wajar karena efisiensi chip Qualcomm generasi ini di beban ringan sama sekali tidak membaik.
Geekerwan mengingatkan, karena beban Honor of Kings ringan, porsi konsumsi daya layar menjadi lebih besar. Jadi, angka konsumsi daya seluruh perangkat tidak bisa langsung dibaca sebagai konsumsi daya chip. Kelancaran gim ini lebih tepat dilihat dari nilai 1% low.
Latensi sentuh, iPhone paling lambat?
Selain performa, Geekerwan juga menguji latensi sentuh, yaitu jeda antara jari menyentuh layar dan respons muncul di layar.
Uji di Peace Elite
Pengujian pertama memakai gim Peace Elite, versi China dari PUBG Mobile. Semua ponsel diatur dalam mode performa atau mode gim, lalu diukur jeda dari layar disentuh untuk menembak sampai muncul kilatan api di moncong senjata.
Karena ada vsync, jeda ini tidak pernah berupa angka yang pasti. Terkadang respons muncul cepat, terkadang agak lambat. Karena itu, pengujian dilakukan berulang kali dan diambil rata-ratanya. Tahun ini, Geekerwan juga menghitung simpangan baku untuk melihat seberapa stabil jedanya.
Hasil terbaik dicatat Honor WIN dan dua ponsel seri iQOO 15, dengan latensi sekitar 35 milidetik. Menurut Yunfei, angka ini sudah mendekati latensi banyak PC gaming.
Salah satu penyebabnya adalah touch sampling rate yang tinggi, yakni seberapa sering layar membaca sentuhan dalam satu detik. Honor WIN mencapai 480 Hz, sedangkan dua ponsel iQOO 15 mencapai 300 Hz dan 360 Hz. Kedua vendor itu juga dinilai serius mengoptimalkan respons sentuh.
Posisi terbawah justru ditempati iPhone. Tiga iPhone generasi terbaru mencatat latensi sekitar 60 milidetik di Peace Elite.
Ponsel Android lainnya tidak jauh berbeda satu sama lain, yakni di kisaran 40-50 milidetik. Namun dari simpangan bakunya, jeda beberapa ponsel tergolong tidak stabil, antara lain seri Vivo X300, salah satu model seri Xiaomi 17, dan Nubia Z80 Ultra.
Uji dengan aplikasi kosong
Geekerwan lalu menambah pengujian baru dengan membuat aplikasi kosong dengan kerangka yang sama untuk Android dan iOS. Aplikasi ini tidak masuk whitelist, dan diuji dengan mode baterai standar.
Hasilnya berbalik. Latensi tiga iPhone justru turun hampir 20 milidetik dibanding saat bermain Peace Elite, dari posisi buncit menjadi salah satu yang terdepan.
Menurut Yunfei, penyebabnya adalah jeda dari proses render mesin grafis gim yang hilang di aplikasi kosong. Jadi, yang lambat sebenarnya bukan iPhone, melainkan Peace Elite versi iOS. Hal yang sama juga berlaku untuk banyak gim iOS lain.
Triple buffering di gim iOS
Dibanding versi Android, banyak gim versi iOS memakai triple buffering yang menambah jeda. API grafis Apple, Metal, secara bawaan memakai triple buffering. Pengembang sebenarnya bisa menggantinya menjadi double buffering, tetapi sebagian besar tidak mengejar latensi rendah dan membiarkan pengaturan bawaan.
Alasannya, triple buffering memperbesar “tampungan” frame dengan tambahan satu antrean. Cara ini mencegah frame keluar secara tidak stabil. Menurut Yunfei, iOS sejak lama dirancang dengan mengutamakan konsistensi visual dan animasi. Bagi Apple, ritme frame yang ketat lebih penting daripada latensi rendah.
Whitelist mengatur sentuhan
Secara teori, aplikasi kosong seharusnya memberi latensi lebih rendah daripada Peace Elite karena tidak ada proses render grafis. Namun, sebagian besar ponsel Android tidak mengalami penurunan latensi, dan beberapa di antaranya malah mencatat latensi lebih tinggi.
Menurut Yunfei, ini karena mekanisme whitelist. Ponsel Android baru mengaktifkan respons sentuh yang lebih peka saat mendeteksi aplikasi yang ada di whitelist. Di aplikasi kosong, touch sampling rate hampir semua ponsel Android juga ikut turun.
Banyak ponsel Android juga mengaitkan pengaturan sentuh dengan mode baterai. Respons sentuh terbaik baru didapat di mode performa, misalnya pada ponsel Xiaomi.
Saat mode baterai dikembalikan ke mode seimbang bawaan, latensi sebagian besar ponsel Xiaomi naik cukup jauh.
Latensi iPhone paling stabil
Aplikasi kosong itu juga memperlihatkan keunggulan lain iPhone, yakni latensi sentuh yang sangat stabil. Simpangan bakunya hanya 2 milidetik lebih. Artinya, dari banyak pengujian, latensinya nyaris tidak berubah dan selalu berada di rentang yang sempit.
Di antara semua ponsel yang diuji, tingkat kestabilan ini termasuk yang terbaik.
Menurut Yunfei, inilah salah satu alasan banyak pemain gim ritme lebih memilih iPhone atau iPad. Gim ritme punya pengaturan offset, sehingga pemain tidak butuh latensi yang sangat rendah, asal tidak terlalu tinggi. Yang lebih penting adalah latensi yang stabil.
Audio iPhone paling stabil
iOS juga dinilai lebih unggul soal jalur audio. Geekerwan berdiskusi dengan pengembang gim ritme Muse Dash, yang punya alat analisis internal untuk mengukur latensi audio di kedua platform.
Hasilnya, latensi audio iPhone tergolong rendah. iPhone 17 Pro Max hanya mencatat rata-rata 28 milidetik.
Yang lebih penting, simpangan bakunya jauh lebih kecil dari ponsel Android, hanya 0 koma sekian milidetik. Artinya, audio iPhone sangat stabil dan latensinya tidak naik-turun.
Android lebih bervariasi
Performa audio ponsel Android jauh lebih bervariasi, meski ada ponsel Android yang audionya sangat baik, yakni Redmi K90 Pro Max.
Latensinya memang tidak sestabil iPhone, tetapi rata-ratanya sangat rendah, hanya 18 milidetik. Yunfei juga memuji kualitas suara ponsel tersebut dan menilai sistem audionya disetel dengan serius.
Secara umum, ponsel Xiaomi dan Redmi tampil cukup baik. Latensi audio seri Xiaomi 17 termasuk yang terdepan. Dua ponsel iQOO 15 dan beberapa flagship Honor juga mencatat hasil yang baik.
Oppo dan OnePlus tertinggal
Namun, ponsel yang buruk dinilai benar-benar buruk, seperti dua ponsel Oppo Find X9 yang mencatat latensi audio hampir 90 milidetik.
“Apakah ini benar-benar bisa dipakai main gim ritme?” kata Yunfei.
Soal latensi audio, tidak ada pula satu pun ponsel OnePlus lain di luar OnePlus 15 yang mencatat hasil baik.
Ditambah lagi, banyak gim ritme kemungkinan tidak masuk whitelist ponsel Android. Pemain juga tidak bisa tahu apakah latensi audio sebuah ponsel stabil dan normal sebelum membelinya.
Uji latensi usap menyusul
Geekerwan sebenarnya juga ingin menguji latensi saat mengusap layar. Menurut Yunfei, ponsel yang latensi ketuknya baik belum tentu baik pula saat mengusap.
Pengujian ini sulit karena harus menghitung frame satu per satu atau memakai algoritma berbasis visual yang dikembangkan khusus. Algoritma tersebut sedang dikembangkan dan diharapkan bisa dipakai di pengujian besar berikutnya.
Rekomendasi Geekerwan
Pilihan iPhone
Di akhir video, Yunfei merangkum ponsel yang menurut dia paling cocok untuk bermain gim. Untuk iPhone, iPhone 17 Pro Max dinilai sangat layak direkomendasikan bagi yang punya anggaran lebih.
Menurut dia, iPhone 17 Pro Max adalah iPhone dengan performa gaming dan pendinginan terbaik sepanjang sejarah.
Pilihan Android
Di kubu Android, dengan menimbang performa gaming dan harga, Yunfei menilai iQOO 15 dan Honor WIN sebagai ponsel Snapdragon 8 Elite Gen 5 yang paling layak dibeli.
Namun, ia mengingatkan bahwa Snapdragon 8 Elite Gen 5 tidak banyak berkembang dibanding pendahulunya. Dimensity 9500 juga dinilai tidak memanfaatkan kesempatan dengan baik.
Karena itu, bagi yang anggarannya terbatas, Yunfei menilai ponsel Snapdragon 8 Elite generasi sebelumnya adalah pilihan paling hemat. Syaratnya, hindari ponsel yang terbukti bermasalah, misalnya Redmi K90 standar.
Kesimpulan pengujian
Unit media vs unit ritel
Dari seluruh rangkaian pengujian, temuan terbesar Geekerwan adalah selisih antara unit media dan unit ritel. Hampir semua vendor Android yang diuji mengirim unit media yang lebih kencang, lebih hemat daya, atau lebih dingin dibanding ponsel yang dijual ke konsumen. Sebaliknya, unit ritel iPhone justru tampil lebih baik setelah mendapat pembaruan iOS.
Penyetelan unit media juga cenderung makin parah pada ponsel yang meluncur belakangan. Yunfei sendiri menyebut konsumen tahun ini sudah tidak lagi percaya pada data unit media yang muncul saat peluncuran.
Qualcomm dan MediaTek
Dari sisi chip, Snapdragon 8 Elite Gen 5 tidak menunjukkan lompatan berarti dibanding Snapdragon 8 Elite. Di beberapa gim, ponsel Snapdragon 8 Elite generasi sebelumnya bahkan menyamai atau mengungguli penerusnya, dan di beban ringan efisiensi chip baru Qualcomm itu tidak membaik.
Dimensity 9500 tampil tidak konsisten. Chip MediaTek ini boros daya di Arknights: Endfield, tetapi cukup efisien di Wuthering Waves dan menjadi yang paling hemat di Honor of Kings.
Peran whitelist dan batas alat ukur
Pengujian ini juga menunjukkan besarnya peran whitelist. Di Endfield yang belum masuk whitelist, banyak ponsel Android kewalahan. Di aplikasi kosong di luar whitelist, latensi sentuh sebagian besar ponsel Android pun tidak membaik, bahkan ada yang memburuk.
Angka dari alat ukur juga tidak selalu mencerminkan pengalaman bermain. Frame rate iQOO 15 Ultra terbaca nyaris sempurna, padahal waktu frame gim sebenarnya terus bergeser. Fitur Phantom di ponsel Honor memang meredam tersendat kecil, tetapi menambah jeda saat ponsel dikendalikan.
iPhone dan Android
Untuk iPhone, iPhone 17 Pro Max menjadi ponsel paling efisien di Endfield, tetap irit di Star Rail 763p, bertahan di uji suhu 30 derajat, serta punya latensi sentuh dan audio yang sangat stabil. Namun, efisiensinya kalah di Wuthering Waves, dan latensinya di Peace Elite tinggi karena cara gim versi iOS memproses gambar.
Di kubu Android, Red Magic 11 Pro, Nubia, Honor WIN, dan iQOO 15 termasuk yang paling sering tampil di papan atas. Sementara itu, Redmi K90 standar dan sebagian besar seri Xiaomi 17 berulang kali tertinggal di berbagai pengujian performa gim.
Yang beredar di Indonesia
Sejumlah model yang diuji, atau kembarannya, sudah resmi dijual di Tanah Air. Seri iPhone 17 resmi dipasarkan di Indonesia sejak Oktober 2025.
Oppo Find X9 dan Find X9 Pro bertenaga Dimensity 9500 resmi meluncur di Indonesia pada November 2025, disusul Vivo X300 dan X300 Pro pada bulan yang sama.
iQOO 15 resmi meluncur di Indonesia pada Selasa (2/12/2025) sebagai ponsel pertama di Tanah Air yang memakai Snapdragon 8 Elite Gen 5. Red Magic 11 Pro menyusul pada Kamis (8/1/2026).
Poco F8 Pro dan Poco F8 Ultra yang merupakan kembaran Redmi K90 dan Redmi K90 Pro Max resmi dijual di Indonesia pada Rabu (4/2/2026). Poco F8 Pro memakai Snapdragon 8 Elite, sedangkan Poco F8 Ultra memakai Snapdragon 8 Elite Gen 5.
Xiaomi 17 dan Xiaomi 17 Ultra kemudian resmi hadir di Indonesia pada Selasa (3/3/2026) dengan chip Snapdragon 8 Elite Gen 5.
Geekerwan menyebut seri pengujian berikutnya akan membahas daya tahan baterai dan kelancaran sistem dengan memakai semua ponsel yang sama.
Daftar ponsel yang diuji
Berikut daftar ponsel yang disebut dalam video pengujian Geekerwan, dikelompokkan berdasarkan chip yang dipakai:
Apple
- iPhone 17 Pro Max
- iPhone 17 Pro
- iPhone 17
Snapdragon 8 Elite Gen 5
- iQOO 15
- iQOO 15 Ultra
- OnePlus 15
- Red Magic 11 Pro
- Nubia Z80 Ultra
- Honor WIN
- Honor Magic 8 Pro
- Xiaomi 17
- Xiaomi 17 Pro
- Xiaomi 17 Pro Max
- Xiaomi 17 Ultra
- Redmi K90 Pro Max
- Realme GT8 Pro
Snapdragon 8 Elite
- Honor WIN RT
- Honor GT Pro
- Redmi K90
- OnePlus Ace 6
- OnePlus Ace 5 Pro
- OnePlus 13T
- iQOO Neo 11
- iQOO Neo 10 Pro+
- Realme GT8
- Xiaomi 15 Ultra
- Oppo Find X8 Ultra
- Vivo X200 Ultra
Snapdragon 8 Gen 5
- OnePlus Ace 6T
- Realme Neo8
Dimensity 9500
- Oppo Find X9
- Oppo Find X9 Pro
- Vivo X300
- Vivo X300 Pro
Dimensity 9400+ dan Dimensity 9500s
- iQOO Z10 Turbo+
- Redmi K80 Ultra
- OnePlus Ace 5 Ultra
- Redmi Turbo 5 Max (Dimensity 9500s)
XRING O1
- Xiaomi 15S Pro
Geekerwan juga menguji satu ponsel kelas menengah Snapdragon 8 Gen 5 lain dan sejumlah ponsel Snapdragon 8 Elite yang tidak disebut namanya di dalam video.
